Kehilangan Identitas Diri

Setelah menikah dan punya anak, kita kaum perempuan jadi kehilangan identitas diri. Waktu baru menikah, orang gak kenal dengan yang namanya Ibu Maya. Taunya Ibu Heri. Setelah punya anak, guru-guru di sekolah juga gak kenal sama yang namanya Ibu Maya. Taunya Mama Nadya. Minggu lalu kan gw mendaftarkan Rifky ke Tamki (playgroup) Bunaya, sama dengan Tamki Nadya yang dulu, jadi gw sudah kenal dengan kepala sekolah dan guru-gurunya. Kemaren gw menelpon kepala sekolahnya untuk mengkonfirmasi beberapa hal.

Gw: Assalamualaikum, ini Bu Rita?

Kepsek: Wa’alaikum salam. Iya Bu. Dari siapa ya?

Gw: Ini Bu Maya.

Kepsek: …

Gw: Mamanya Rifky, Bu

Kepsek: Rifky … ? Yang mana ya?

Gw: Itu … yang kemaren Jumat siang baru mendaftar

Kepsek: (setelah beberapa saat) Ohhh … mamanya Nadya ya!

Yaelaahhh … Bu Maya gak ngetop. Mama Rifky juga belum ngetop di sana. Mama Nadya baru ngetop. Padahal satu orang yang sama.

Sok Manja

Pake celana panjang ini aja ke kantor, Pa!

Pake celana panjang ini aja ke kantor, Pa!

Pagi itu Eyi berhasil membuat gw bete. Pasalnya waktu gw bicara ke Rifky ‘drink water, Ky’ sewaktu Rifky bangun tidur, Eyi ngeledekin logat bahasa Inggris gw. Gw ngambek berat dan bilang, ‘Ya udah … kami gak mau lagi ngajarin anak-anak bahasa Inggris. Biar Papa aja ya’.

 Jadinya waktu habis mandi mau pake celana panjang untuk kerja, tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan gak ada gledek gak ada Komo lewat Eyi sok manja nanyain gw,

‘Hari ini Papa pake celana panjang warna apa ya Ma? Biru atau hitam?’

Ihh … biasanya juga pake celana panjang warna pilihan sendiri kok. Hmmm … ok, kadang-kadang Eyi emang nanyain gw sih. Tapi pagi itu nada bicaranya dialem-alemin.

Dengan wajah tanpa dosa gw menyahut,

‘Gak usah pake celana aja, Pa’