It’s all because of … then?

Seringnya diskusi kecil-kecil di kantor dengan bos gw yang ruangannya agak jauh dengan ruangan gw dilakukan via email atau chat. Kalau diperlukan baru face-to-face atau pake telpon internal. Terus, komunikasi lebih sering pake bahasa Inggris karena Bos bukan WNI. Nah gw mau membahas mengenai perbedaan bahasa dan kebudayaan yang kadang-kadang menimbulkan gesekan-gesekan kecil yang tidak diinginkan.
Kayak tadi. Gw mengirim email ke Bos yang isinya lebih kurang memberi saran kepada beliau mengenai pekerjaan. Gw baca berulang-ulang tuh email sebelum klik Send untuk memastikan tidak ada kata-kata yang bisa menyinggung perasaannya berhubung email itu bersifat saran ato koreksi.
Email has been sent. Waiting for his responds.
Gak berapa lama email balasan masuk. Gw balas lagi (isinya gak udah dibahas di sini yee). Setelah beberapa korespondensi, yang tidak gw harapkan terjadi. Bos memanggil gw ke ruangannya. Biasanya kalo udah begini berarti ada salah pengertian.
Yahhh … pasrah deh … mana tisu gw, mana?
Selidik punya selidik … ternyata Bos mengira gw marah kepada beliau di email gw itu. Dan tebak, semua gara-gara apa? Gara-gara … >>

Advertisements

Mandi di dalam Lemari

Kemaren kan kami ke Brastagi itu ada acara Family Gathering dari kantor misua. Menginap di hotel Mikie Holiday, tapi kamar hotelnya diundi jadi sebelum sampe di sana kami belum tau kira-kira dapet kamar yang tipe apa. Nadya kasak-kusuk nanya-in, “Ma, nanti kita dapet kamar yang kamar mandinya bak (maksudnya bath tub) atau bukan ya?”. Kalo dapet kamar mandi bath tub, dia kepengen berendam lama-lama sama Rifky di kamar mandi. Gw jawab gak tau, nanti kita lihat aja di sana.
Sampelah kami di hotel. Begitu melihat kamar mandinya, Nadya kecewa berat,
“Yaaah … Ma … kamar mandinya bukan bak. Tapi kita mandi di dalam lemari!”

Kayak apa mandi di lemari?

Chair or Tempat Duduk?

chairAda lucunya juga mengajarkan dua bahasa, Inggris dan Indonesia ke anak kedua gw Rifky yang berumur 2 tahun itu. Jadi ceritanya, gw di rumah selalu berkomunikasi dalam bahasa Inggris ke Rifky. Teorinya sih, supaya berhasil mengajarkan dua bahasa ke anak kita harus konsisten dalam berkomunikasi. Jadi sejak dia bayi kalau gw bicara dengan Rifky gw selalu pake bahasa Inggris. Sementara yang laen, pake bahasa Indonesia.

Jadi malem itu, gw lagi bermain flashcard dengan Rifky.

Gambar pertama, OK … ‘Fish’ … Rifky pun menirukan ‘Fish’

Gambar kedua, aman … ‘Rice’ … Rifky pun menirukan ‘Rice’

Eh … gambar ketiga … ‘Chair’ … Rifky protes ‘No no no … duduk duduk … ‘ (maksudnya tempat duduk).

Halah … kok bahasanya gado-gado, Ky?