Memanfaatkan Teknologi Untuk Kemudahan Hidup

Konsekuensi menjadi ibu bekerja adalah, tentu-saja-siapapun-tahu-itu, berkurangnya waktu untuk anak. Tantangan ibu bekerja banyak, salah satunya bagaimana mensiasati supaya waktu yang kita miliki benar-benar termanfaatkan dengan baik? Bagaimana supaya semua urusan beres tanpa harus menyita jatah waktu untuk anak?

Continue reading

Advertisements

Sudahkan Kita Mendaur Ulang Sampah?

Dulu aku pernah bikin postingan tentang tempat daur ulang sampah yang ada di Medan, khususnya yang didirikan yayasan Tzu Chi di komplek Cemara Asri (klik sini). Sejak tau yayasan itu sudah membuka depo sampah di Medan, aku biasa menyumbangkan sampah anorganik (segala plastik bungkus bekas, kardus, koran bekas, botol bekas, dsb dikumpulkan dalam tong tersendiri di halaman belakang) ke depo sampah yang ada di komplek Cemara Asri, gak jauh dari gerbang masuk, belok kiri ada plang namanya kok. Berhubung lokasinya gak terlalu jauh dari kantor jadi seringnya ke depo itu ya di jam pulang kantor hari Jumat, di atas jam 12. Jadi itu sama saja artinya yang pergi ke sana hanya aku sendirian.
Continue reading

Mari Selamatkan Hutan Mangrove

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Salah satu fungsi utama hutan bakau atau mangrove adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami.
(Sumber: Wikipedia)
Continue reading

Krisis Listrik Sumut: Pilih Menghujat Atau Menghemat?

Krisis listrik di Sumatera Utara memang gila-gilaan. Sebenarnya mulainya sudah lama, sejak sekitar pertengahan tahun 2013 ini mati lampu hampir setiap hari dengan frekuensi bisa kayak minum obat, 3 kali sehari. Aku sebelumnya gak bikin posting karena berharap krisis listrik akan segera usai sehingga gak perlulah bikin ulasan *halah siapa juga yang nungguin ulasanmu, jeng*. Tapi ternyata sampai November sudah mau berakhir ini saja masih terjadi pemadaman. Terpaksalah sekarang dibuat postingan yang cukup panjang ini (dan membosankan bagi yang gak suka panjang-panjang).

Saking gondoknya karena masih saja pemadaman, koran lokal sampai memasang headline besar-besaran “Dahlan Iskan Ingkar Janji” berhubung Pak DI pernah berjanji krisis akan selesai di November. Walaupun pemadaman sudah tidak setiap hari lagi tapi tetep aja yang namanya pemadaman bikin gak nyaman. Ya gelap, ya panas, ya gak bisa beraktifitas normal.

Awalnya memang kami juga mengeluhkan PLN sebagai biang kerok karena ketidaktahuan akan penyebab masalahnya. Tapi makin ke sini makin banyak yang membahas krisis listrik makin terekspos di media (baca juga blog tentang Pak Dahlan Iskan di sini) akhirnya makin disadari kalau masalahnya tidak sesederhana menyelesaikan bola lampu yang mati di rumah.

Lagipula, bekerja di lingkungan kantor yang sekarang selama hampir 10 tahun (ehh baru sadar udah lama juga yah) membuat aku sadar sesadar-sadarnya bahwa selesainya suatu pekerjaan besar tidak tergantung hanya kepada satu pihak saja, melainkan banyak pihak yang terlibat. Contoh kecilnya ketika ada proyek komputerisasi apakah hanya bagian IT yang bisa menentukan kapan selesai proyek tersebut? Hohoho … tentu saja tidak. Justru banyak sekali pihak lain yang mempunyai andil dan tanggung jawab dalam selesai atau tidaknya suatu proyek. Dan ironinya, andil pihak selain IT ini yang malah sangat menentukan. Mulai dari end user yang bertanngung jawab menyelesaikan user acceptance test, komitmen vendor software dalam bekerja sama sampai ke pengambilan keputusan atas kebijakan oleh pemilik proses bisnis. It’s a team work, u know. *loh kok jadi curhat colongan* #lost focus#

Kembali ke listrik, kalau mau mencari siapa yang salah, semua orang mah bisa ya. Apa susahnya sih mengacungkan telunjuk ke muka orang lain. Yang susah itu ke muka sendiri. Kalau mau rame-rame menghujat, itu lebih bisa lagi. Padahal kalau ditelaah lagi (aaah sedap bahasanya, ciyus banget), sebenernya semua pihak salah, termasuklah kita sendiri!

Yang pertama tersangka utama, jelas PLN, dituduh tidak bisa merawat pembangkit-pembangkit listrik sampai ke distribusinya. PLN juga dihujat karena tidak bisa mengestimasi kebutuhan listrik sehingga bikin terjadinya krisis listrik. Tapiii … kalau memang PLN yang salah kenapa Sumut aja yah yang sering krisis? Di Palembang tuh, malah surplus listrik.

Nah sebenarnya, jajaran pemerintah daerah Sumut juga bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan pasokan daya listrik ke masyarakat. Pemerintah daerahlah yang memutuskan memberikan izin atau tidak ke PLN. Dan kenyataannya, susah banget mendapatkan izin untuk membangun PLTA Asahan yang berujung kepada krisis ini.

Terus, salah siapa lagi? Oknum pekerja PLN yang korupsi sehingga uang yang seharusnya untuk PLN malah masuk kantong pribadinya. Atau yang korupsi sehingga spesifikasi pembangkit tidak sesuai.

Terus, salah siapa lagi? Ada lagi salah masyarakat yang gak mau membebaskan lahannya untuk keperluan pembangunan pembangkit listrik di Pangkalan Susu. Gimana mau bangun kalo gak ada lahan?

Terus, salah siapa lagi? Ada juga salah masyarakat yang mencuri listrik sehingga pemasukan PLN berkurang sementara konsumsi listrik bertambah.

Terus? Yaaa salah kita semua di Sumut tercinta ini dong yang gak mau menghemat listrik. Sudah tahu lagi krisis eeehhh bukannya menghemat listrik rame-rame? Lah bayangin aja kalo kondisi keuangan keluarga kita lagi krisis kan otomatis kita dengan sendirinya mengencangkan ikat pinggang. Gitu juga listrik dong.

Hehehe … jadi begitulah, kalau mau nyari kambing hitam sih gampang yah. But now that we’ve found the scape goat, what’s next? Problem’s resolved by finding the scape goat?

Seperti yang selalu aku tanamkan ke anak-anak, kalo sedang ada masalah janganlah fokus ke siapa yang salah. Tapi fokuslah ke apa yang bisa kita lakukan supaya ada solusinya. Ya, kita. K-I-T-A.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mempercepat penyelesaian krisis ini?

Logikanya kan sederhana, pemadaman karena krisis listrik itu umumnya terjadi karena produksi lebih kecil daripada konsumsi. Kalau kita sebagai masyarakat biasa (alias bukan gubernur, bukan direksi PLN, bukan menteri) gak bisa ‘mengontrol’ bagian produksi kan bisa kita mengontrol konsumsi? Dimulai dari mana? Ya diri sendiri dulu dong. Masa’ tetangga?

Eeehh ada yang komentar, ‘Ngapain gue capek-capek mikirin menghemat listrik. Rumah rumah gue, pacar pacar gue listrik gue yang bayar. PLN tuh yang harus genjot produksi!’

Naaah kembali ke poin awal tadi lagi, lebih baik cari siapa yang salah atau cari apa yang bisa dibantu sih?

Gak rugi kok kalo kita menghemat. Malah untung. Sejak lebih menghemat lagi, tagihan listrik di rumah kami berkurang sekitar 100 ribu tiap bulan. Pasti ini juga yang turut menyumbang keberhasilan dalam mengurangi frekuensi pemadaman. Cieeehh … yang penting PD. Yakin dong, buktinya Earth Hour aja.
Perilaku kecil seperti mematikan lampu atau peralatan elektronik yang tidak terpakai adalah hal yang paling mudah dilakukan oleh siapapun. Dengan ikut mematikan lampu bersama di EARTH HOUR, sudah dibuktikan bahwa sekecil apapun AKSI yang kita lakukan, akan berdampak besar jika dilakukan bersama-sama (dikutip dari web site-nya).

Tips menghemat listrik yang lengkap ada di sini yang memang sudah dijalanin sehari-hari. Kalau tips tambahan khusus untuk menghadapi krisis saat ini, sementara sambil menunggu krisis usai ini nih:
1. Mencabut lampu yang ganda, contohnya lampu tidur, jadi cukup 1 lampu kanan aja. Toh masih kelihatan juga.
2. Tidak menghidupkan lampu balkon depan. Memang balkon jadi agak redup dan gak secantik kalau lampu dihidupkan, tapi hey, tidak ada penilaian balkon tercantik tingkat RT dalam waktu dekat ini kan?
3. Salah satu AC kamar dihidupkan pas sudah mau tidur saja atau kalau cuaca sedang panas saja. Jadi selama jam beban puncak diusahakan gak hidup. Untungnya antar kamar terhubung pintu koneksi, jadi selama pintu koneksi dibuka dapat kiriman udara dingin dari kamar sebelah.
4. Timer off AC diset lebih awal, jam 4 pagi. Jam 4 pagi kan bukan jam beban puncak? Ya gitulah, saking krisisnya pagi pun suka pemadaman.

Tips satu lagi, khusus untuk yang curi listrik nun di sana … wooooiii jangan nyuri lagi kao! Ups, kok kayak preman pajak Sambu bahasanya. Maafkan, esmosi jiwa 🙂

Jadi bagaimana, pilih rame-rame menghujat atau rame-rame menghemat?

20131128-220856.jpg
Lagi krisis ngidupin lampu begini? Tunda dulu ya!

Tempat Daur Ulang Sampah di Medan

Berawal dari kesukaan gw dengan saluran tivi DAAI (baca: da-ai) TV (sepertinya saat ini cuma ada di Medan dan Jakarta ya) yang berorientasi cinta kasih, termasuklah cinta lingkungan, gw menjadi sangat terinspirasi untuk lebih peduli lingkungan. Sebenarnya gw jarang nonton tivi dan tidak terlalu suka tivi, tapi gw suka saluran ini. Salah satu iklan yang sering disiarkan oleh stasiun itu adalah iklan yang menggerakkan pemirsa untuk mendaur ulang sampah, dengan cara menyetorkan sampah anorganik ke depo-depo pelestarian lingkungan yang didirikan Yayasan Tzu Chi. Sewaktu menonton adegan orang yang sedang menyetorkan sampah anorganik itu, gw membatin, kapan yaaa tempat daur ulangnya dibuka di Medan?

Daur Ulang Tzu Chi

Foto diambil dari arah mau keluar depo

Naaah … begitu gw baca di koran lokal kalau Yayasan Tzu Chi sudah membuka depo pelestarian lingkungan di Medan, gw segera mencari tau di mana tempatnya. Eh, ternyata salah satunya terletak gak jauh dari kantor gw, tepatnya di Cemara Asri. Nomor telponnya 061-6638986. Dari gerbang satpam belok kiri, tampak plang namanya besar. Tempat daur ulang ini tutup jam 5. Tapi kalau hanya ingin menyetor sampah bisa dilakukan 24 jam 7 hari seminggu karena di bagian depan disediakan penampungan sampah yang bisa kita isi kapanpun.

Come In

Mobil langsung masuk ke dalam untuk diambil sampahnya

Sudah dua kali Jumat ini pulang kantor gw ke sana untuk menyumbang sampah anorganik yang sudah gw pisah-pisahkan di posting ini. Koran, plastik, kotak susu, dsb dikumpulkan dalam tong sampah besar tersendiri di halaman belakang jadi tetap kering dan tidak busuk. Lalu tiap minggu gw sumbangkan.

Siap berangkat!

Siap berangkat!

Pintu Masuk Daur Ulang

Kalau di atas jam 5, sampah taruh aja di sana

Bayangkan dalam seminggu dari rumah kami saja satu kotak sampah besar terkumpul. Kalau digabung dengan sampah organik kan jadi basah dan tidak bisa diolah ulang. Berapa banyak kalo setiap rumah seperti ini? Pasti bergunung-gunung sampah yang seharusnya bisa didaur ulang jadi mubazir.

Bunches of Garbages

Gunungan sampah siap didaur ulang

Ayo ayo ayo … Mari kita beramai-ramai menyetorkan sampah anorganik!

Garbages every where

Gunungan yang lain

Hmmm … tapi apakah hal kecil yang gw lakukan ini bisa menyelamatkan bumi? Ada kutipan yang pernah gw baca dan pas banget:

If you think you’re too small to make differences, try to sleep with a mosquito.

Earth Hour: Tips Menghemat Energi

Postingan yang rada telat? Mungkin ya, karena judulnya ada menyebutkan Earth Hour, tanggal 31 Maret, sudah hampir seminggu yang lalu. Mungkin juga tidak, karena judulnya menyebutkan tips menghemat energi, hal yang seharusnya kita lakukan terus menerus, bukan hanya saat Earth Hour.

Jadi kali ini, gw sebenernya mo membahas tips menghemat energi itu, dengan mengambil momen Earth Hour. Bagaimana dengan pembaca sendiri, apakah mematikan peralatan listrik waktu Earth Hour? Kami sendiri terus terang hanya mematikan lampu kamar saja. Tapi peralatan lain seperti AC tetap hidup. Panas bo’ kalo gak pake AC, ntar malah gak bisa tidur hehehe …

Menurut gw sih, kan Earth Hour itu hanya gerakan simbolik, yang lebih penting adalah bagaimana kita menerapkan gerakan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jangan salah loh, umat Hindu sudah lebih dahulu menerapkan ‘gerakan’ semacam ini, bukan hanya earth hour tapi sudah earth day! Iya, ingat waktu hari raya Nyepi kan. Di hari itu, umat Hindu tidak menyalakan listrik seharian penuh.

Jadi, setelah Earth Hour atau ‘Earth Day’, apa yang bisa kita lakukan untuk menghemat energi setiap hari? Ini nih tips yang sudah gw terapkan sehari-hari, yakin deh pasti di antara pembaca juga sudah ada yang menerapkannya juga.

1. Ya, sudah pasti tips nomor satu adalah matikan peralatan listrik yang tidak digunakan.

2. Menyambung poin no. 1: tapi jangan salah ya khusus untuk AC, memati-hidupkannya kadang justru tidak menghemat energi. Jika akan pergi keluar rumah tapi dalam waktu sebentar, sebaiknya AC tidak dimatikan. Tapi distel saja suhunya ke yang paling besar. Hal ini karena sewaktu AC baru dihidupkan dan suhu ruangan masih panas, energi untuk mendinginkan ruangan lebih besar dibandingkan AC tetap hidup untuk mempertahankan suhu dingin.

3. Pintu lemari es jangan sering dibuka tutup karena suhunya menjadi naik sehingga konsumsi listrik lebih besar.

4. Jika mencuci dengan mesin cuci, semua pakaian dikumpulkan dulu memenuhi kapasitas mesin cuci (tapi jangan melebihi ya, ntar rusak mesinnya) baru dicuci berbarengan sekaligus.

5. Jika punya kebiasaan nonton tivi sebelum tidur, manfaatkan fitur timer tivi supaya kalo ketiduran maka situasi tidak menjadi terbalik, tivinya yang jadi nonton kita tidur dan menghabiskan listrik percuma.

6. Peralatan elektronik yang jarang dipakai dicabut saja dari colokan listrik. Misalnya kalo DVD player jarang dipake, ya dicabut saja. Walaupun posisinya stand by kalo dicolok, tetap saja mengkonsumsi listrik kan?

7. Gunakan lampu hemat energi. Keknya semua orang sudah tahu ini yah, jangan pake lampu pijar lagi kalo gak perlu-perlu amat.

8. Kalo ingin memanaskan makanan, manfaatkan rice cooker. Tanaklah nasi sekaligus memanaskan makanan.

9. Saat mau tidur matikan semua lampu rumah yang tidak diperlukan. Kalo di rumah gw yang hidup hanya lampu teras dan lampu tidur kamar. Semua lampu lain beristirahat.

10. Pada saat fajar/subuh sebenarnya cuaca cukup dingin jadi AC gak perlu-perlu amat hidup. Manfaatkan timer AC sehingga AC otomatis mati ketika fajar. Kalo di rumah gw timernya diset pukul 4.30. Walaupun sudah mati jam segitu, sampe pukul 5.30 masih terasa dingin kok!

11.  Untuk pekerja yang tidak perlu stand-by 24 jam, kalo sudah mau tidur matikan saja HP-nya. Jadi kan hemat batere. Berarti otomatis hemat listrik untuk charge.

12. Kalo lagi charge benda elektronik, entah itu HP, lampu emergency, raket nyamuk, batere re-chargable, dan lain sebagainya segera cabut dari listrik ketika sudah penuh.

13. Jangan biarkan lemari es kosong. Tapi juga jangan penuh sekali sih. Karena jika ada makanan disimpan di dalamnya maka makanan tersebut juga ikut mempertahankan suhu dingin. Terutama bagian freezer, jika sedang kosong bekukan beberapa batu es di dalamnya.

Itu saja dulu. Selamat menghemat energi!

Tips Mengurangi Pemakaian Kertas

Pohon Eucalyptus - Penghasil Kertas

Setuju gak kalo gw bilang salah satu kegiatan yang mendukung go-green adalah mengurangi pemakaian kertas? Setuju gak …? Yang setuju angkat tangaaaann … Yang gak setuju angkat kakiiii …. Yak bagus. Lari jauh jauh noh yang gak setuju 🙂

Nah, banyak cara kok mengurangi kertas. Gak usah banyak teori deh, ini nih yang sudah gw terapkan sehari-hari. Mungkin sebagian juga sudah diterapkan pembaca yak.

1. Kalo di kantor sedang me-review dokumen gw selalu minta softcopynya untuk dikirim ke gw. Kalo sudah final baru boleh dicetak. Itupun kalo emang perlu dicetak. Kalo gak perlu-perlu amat gak usah dicetak deh. Apalagi kalo email, ngapain sih cetak-cetak email?

2. Kalo punya rekening bank atau kartu kredit segera daftar internet bankingnya. Jadi gak perlu dikirim cetakan rekening koran atau tagihan kartu kredit. Semuanya bisa dicek menggunakan internet bankingnya kan?

3. Kalo transaksi di atm pilih yang gak cetak slip. Lagian ngapain simpan slip kalo udah daftar internet banking?

4. Kalo perlu bersih-bersih sebisa mungkin pake lap ato serbet. Sehemat mungkin make tisu.

5. Perlu cek berita? Gak perlu langganan koran cetak. Cek aja web site korannya. Tapi khusus poin ini gw masih mengalah di akhir pekan masih dikirimin koran cetak, secara untuk hiburan bedinde-bedinde di rumah.

6. Kalau ada kertas tak berguna yang baru dipakai di satu sisi, jangan langsung dibuang. Manfaatkan sisi kosongnya untuk keperluan lain. Bisa untuk oret2an anak lagi belajar, atau untuk anak-anak menggambar juga bisa.

7. HP sekarang kan udah canggih-canggih. Banyak aplikasi-aplikasi untuk mencatat. Jadi kalo perlu mencatat sesuatu, gak perlu make kertas. Catet aja di HP. HP sendiri ya, jangan minjem HP orang laen.

8. Perlu mengarsip suatu hasil cetakan dokumen? Tidak perlu difotokopi. Cukup di-scan saja. Lagipula mencari dokumen dalam softcopy bisa lebih cepat dibanding mencari dokumen dalam tumpukan map-map yang sudah berdebu. Anda tidak bisa menekan Control+F di depan tumpukan map-map tersebut bukan?

Nah … Sementara itu dulu tipsnya. Kalo ada tips laen ntar disambung lagi.

Note: foto diambil dari www[dot]medanbisnisdaily[dot]com