Aksi Untuk Indonesia: Ini Aksiku. Mana Aksimu?

IMG_6368.JPG
Gara-gara baca kompetisi blog Kompasiana yang bertopik “Aksi Untuk Indonesia”, jadi tergoda untuk bikin postingan yang bertema sama.

Ketentuan kompetisinya seperti ini:

Setiap masyarakat Indonesia di seluruh penjuru dunia diajak untuk menuliskan aksi apa yang sedang dan terus mereka atau orang lain lakukan untuk Indonesia.

Membaca ketentuan itu membuat aku jadi intropeksi diri sendiri. Apa yah aksi yang sudah kulakukan? Malu sendiri rasanya kalo gak ada.

Membaca ketentuan itu juga membuat aku teringat teman-teman yang sering mengomentari presiden baru ataupun menteri-menteri baru baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kalo komentarnya positif dan membangun sih gak masalah. Tapi kebanyakan komentarnya negatif. Aku sampe harus unfollow beberapa teman di FB karena gerah dengan postingan mereka yang memojokkan orang lain. Belum sampe unfriend sih, beda pendapat kan gak lantas berarti gak berteman lagi, hehehe. Cuma males aja baca postingan mereka. Mereka cuma menyebarkan energi negatif. Dan aku gak mau ketularan energi negatif itu. Jadi unfollow is the best solution. Nah kembali ke kompetisi blog tadi, aku jadi bertanya-tanya sendiri juga, apa yah aksi yang sudah mereka lakukan untuk Indonesia, selain berkomentar miring tentunya🙂

Sebenarnya sejak kabinet baru ini media massa sering banget memberitakan kinerja menteri-menteri baru. Ada rasa bangga dan tumbuh harapan baru untuk Indonesia yang lebih baik. Mungkin menteri dahulu kinerjanya bagus juga hanya saja tidak diberitakan secara intensif seperti sekarang.

Contohnya ada postingan walikota Bandung Ridwan Kamil yang membuat peralatan fitness di taman kota. Di Medan mah udah lama duluan ada di Lapangan Merdeka tapi karena gak diberitakan jadi gak diketahui se-Indonesia yah. Atau contoh lain Abah Dahlan Iskan (aih sok akrab). Sebagai follower blog kliping tulisan-tulisannya (klik link ini) aku jadi tahu banget sepak terjang beliau. Betapa banyak kiprahnya untuk negara ini. Bahkan apa yang beliau lakukan saat ini setelah tidak jadi menteripun masih dengan tujuan demi Indonesia. Jadi perlu juga sebenarnya high profile. Bukan tujuannya riya alias pamer tapi memberi motivasi bagi yang lain.

Atas nama high profile tadi itu tadinya mau ikutan kompetisi itu sih (berasa bisa menang aja) tapi syaratnya harus buka blog Kompasiana segala. Terus harus follow ini, like itu. Ribet. Blog ini aja sering banyak laba-labanya gak keurus, konon lagi mau buat blog baru? Lagian aku merasa aksiku belum ada apa-apanya. Masih keciiil. Kepengen sih ikutan aksi yang lebih besar, yang lebih menyentuh kehidupan orang banyak. Misalnya seperti Gerakan Indonesia Mengajar, Gerakan Nasi Bungkus, atau aksi sosial lainnya. Tapi waktunya belum ada saat ini. Mungkin nanti ketika anak-anak sudah besar. Memang sih disebutkan di Kompasiana itu sekecil apapun aksi kita, sangat berarti. Tapi keknya mending nulis di blog ini aja deh biar gak ribet.

Jadi mau tau gak aksiku? Ini diaaa …

1. Memakai PERTAMAX. BBM bersubsidi sudah bertahun-tahun menjadi masalah nasional. Salah sasaran subsidi juga jadi masalah pemerintah yang gak berkesudahan. Bagiku BBM bersubsidi udah jelas diperuntukkan untuk rakyat yang masih perlu disubsidi negara yaitu golongan yang tidak mampu. Tinggal kita sendiri yang mikir, kategori mana sih kita ini? Bukan sombong, tapi kalo make sesuatu yang bukan hakku rasanya memalukan. Bisa malu tujuh turunan deh #lebay

2. Tidak menggunakan jasa calo ketika mengurus SIM, paspor, STNK, KTP, dsb. Menggunakan jasa calo sama saja dengan tidak mendukung gerakan Indonesia bersih.

3. Tidak memberikan sumbangan ke pengemis di lampu merah. Masalah pengemis juga termasuk permasalahan sosial Indonesia yang gak usai-usai. Kalo kita ngasih uang ke pengemis di lampu merah sama saja dengan mendukung Indonesia miskin mental. Tambah dikasih tambah banyak pengemisnya. Selama kita terus memberi uang ke pengemis selama itu juga pengemis akan ada. Padahal belum tentu juga pengemis itu memang benar-benar miskin. Kadang malah bukan hanya pengemis yang minta-minta di perempatan lampu merah itu. Sangat disayangkan sejumlah mahasiswa pun meminta-minta dengan mengatasnamakan menggalang dana untuk yang lain, misalnya korban Sinabung, korban gempa, dsb. Apa gak ada ide yang lebih kreatif ya? Jadi untuk mendermakan uang aku lebih memilih menyalurkannya ke lembaga-lembaga amal resmi seperti Rumah Zakat dan PKPU. Mereka rutin mengirim laporan ke donatur. Jadi terpercaya dan tepat sasaran.

4. Mengumpulkan sampah anorganik di rumah dan menyumbangkannya ke tempat daur ulang sampah Yayasan Tsu Zhi. Hmmm … ini masuk aksi untuk Indonesia gak yah? Sebenarnya lebih ke aksi untuk lingkungan sih. Tapi karena lingkunganku Indonesia jadi masuk aja yah, hahaha #maksa

5. Mengurangi pemakaian plastik atau kertas dengan cara membawa tas belanja yang bisa dilipat kecil ke mana-mana. Kotak makanan dan minuman Tupperware kosong selalu stand by di bagasi mobil jadi kalo beli makanan atau minuman gak perlu dibungkus-bungkus plastik apalagi styrofoam. Demi lingkungan Indonesia hijau.

Nah, itu aksiku. Mana aksimu?

Picture taken from http://www.kelipet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s