Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga: Lebih Baik Mana?

Seringkali topik ibu bekerja vs ibu rumah tangga jadi pembahasan di mana-mana. Di media sosial, di kalangan blogger, di arisan, di forum ibu-ibu, pokoknya di mana-mana deh.

Menurutku, antara keduanya tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Mau tau kenapa?

Ini niiih kenapa-kenapanya menurut pendapatku …

1. Baik ibu rumah tangga maupun ibu bekerja sebetulnya sama-sama profesi. Jadi membandingkan kedua profesi itu sama saja seperti membandingkan, mana yang lebih baik jadi tukang insinyur atau jadi dokter?

2. Yang berhak menentukan ‘lebih baik’ itu siapa sih? Apakah orang luar berhak menentukan? Kalo menurutku yang bisa memasang kriteria itu adalah suami dan anak-anak kita sendiri. Bukan tetangga. Juga bukan kucing peliharaan. Kalau suami ridho dengan apa pun ‘profesi’ yang dipilih dan anak-anak merasa nyaman dengan pilihan kita maka berarti kita sudah menempuh pilihan terbaik. Kita menjadi ibu rumah tangga tapi anak-anak malah merasa bete karena direcokin terus di rumah justru bukan pilihan baik. Sebaliknya, kita memilih jadi ibu bekerja tapi anak-anak merasa ditelantarkan maka itu juga bukan pilihan yang baik.

3. Yang berhak menilai kita berhasil dengan profesi pilihan kita siapa sih? Apakah orang luar berhak? Gak ada yang lebih berhak selain keluarga inti kita. Kriteria berhasil atau tidak itu ada di produk yang dihasilkan. Produk keluarga itu anak. Jadi kalo anak-anak yang dihasilkan baik berarti pilihan kita baik.
Contohnya suami dan aku sendiri. Suami produk ibu rumah tangga sementara aku produk ibu bekerja. Menurutku, ini menurutku yaaa … baik suami maupun aku sama-sama berhasil menjalani kehidupan ini dengan baik.
So, why worries?

4. Mungkinkah orang lain berhak menilai apakah kita nyaman dengan pilihan profesi itu? Absolutely no! Tentu kita sendiri dong yang berhak. Kan kita yang menjalani keputusan kita. Aku sendiri pernah mengalami menjadi ibu rumah tangga selama 2,5 tahun. Terus terang mungkin karena dibesarkan oleh Mama yang bekerja (so proud of her), aku merasa dengan pilihan profesi ibu rumah tangga aku malah tidak menjadi seorang ibu seperti yang aku inginkan. Kalo ibunya gak nyaman, kasihan anaknya. Jadi aku memutuskan bekerja kembali. And we’re happy.

Jadi begitulah … selama profesi itu baik untuk keluarga inti kita, go ahead and do it.

And stop comparing. Tidak ada yang lebih baik, tidak ada yang lebih buruk. Ada ibu rumah tangga yang gak mau ngasih ASI ke anaknya. Ada juga ibu bekerja yang bisa ngasih ASI sampe 1 tahun di sela-sela kesibukannya (it’s meee!). Ada anak produk ibu rumah tangga yang berhasil. Banyak juga anak produk ibu bekerja yang berhasil. Ada ibu rumah tangga yang tetap up to date soal ilmu parenting. Ada juga ibu bekerja yang up to date soal memasak (it’s not me #tertunduklesu). Ada yang lebih mementingkan kuantitas pertemuan. Ada juga yang lebih mementingkan kualitas pertemuan. Masing-masing pilihan profesi juga pasti ada yang dikorbankan.

Selama kita menjalani keputusan kita dengan baik, Insya Allah hasilnya akan baik.

Hidup ibu bekerja dan ibu rumah tangga!

Ibu bekerja lagi selfie:

20140430-171728.jpg

2 thoughts on “Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga: Lebih Baik Mana?

    • Itu fotonya pake nahan nafas biar perutnya kempes, hihihi … Eh non, alamat blog noni yang tercantum di comment ini kok masih pake dot wordpress yah. Keknya belum diedit di akunnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s