Ini Akibat Mengemudi Saat Ngantuk

Kejadiannya sebenarnya sudah cukup lama, sebulan yang lalu. Di pagi hari yang suram, waktu mobilku sedang menunggu arus kendaraan dari arah berlawanan distop satpam kantor supaya aku bisa belok kanan masuk ke halaman kantor, tiba-tiba ada yang nabrak dari belakang! Gedubrak!

Mimpi apa yah semalam, mobil segede gaban dalam posisi berhenti pulak kok ditabrak sama mobil di belakang? Apa dia kira sedang main boom-boom-car? Aku melirik kaca spion tengah. Seorang bapak. Sebuah Avanza. Hey, ndilalaah gak disangka-sangka … sepertinya aku kenal. Siapakah dia?

Sepertinya itu rekan sekantor. Antara yakin dan tidak, mobil tetap kuarahkan pelan-pelan belok masuk ke halaman kantor, berharap dugaanku benar dan mobil penabrak itu tidak lari lurus ke depan, melainkan sama-sama belok kanan. Aku setengah tidak yakin karena setahuku sewaktu beriringan di Griya (rumah kami searah jadi kadang berbarengan di jalan) mobilnya ada di depan.

Ternyata benar. Mobil itu mobil rekan sekantorku. Sebut aja dengan si Badak, eh maksudnya si Bapak. Aku belok, diapun ikut belok. Aku parkir di halaman belakang. Dia pun mengikuti ke halaman belakang tapi entah kenapa parkirnya jauh, tidak di sebelahku padahal sebelahku kosong. Aku turun. Dia pun … eh tidak, dia tidak turun-turun. Waaah naga-naganya gak bagus ini. Lagi ngapain di dalam mobil? Baca doa supaya aku gak marah-marah? Meditasi supaya proses negosiasi berjalan lancar?
Gara-gara itu aku jadi malah berpikir, jangan-jangan sengaja nabrak nih. Mungkin si Bapak gak suka sebelumnya aku potong di jalan, secara kalo pagi hari aku berubah wujud jadi Michelle Schumacher🙂

Aku melihat-lihat kondisi bagian belakang mobil. Untuk ukuran mobil yang sebelumnya masih mulus di bagian belakang, kondisinya bagiku saat itu bikin sangat gondok. Bagian bawah pintu bagasi belakang terbuka sedikit akibat terdorong. Bumpernya juga ada yang terbuka sedikit. Dan lecet-lecet di empat titik. Tapi kabar baiknya tidak ada yang penyok. Body Honda CRV memang t.o.p.b.g.t! Belakangan kudengar bumper depan Avanza si Bapak mah penyok. Hihihi, makanya … Honda kok diadu.

20140214-122504.jpg

Bagian bawah pintu bagasi terbuka

Nah, tapi mana si Bapak? Belum selesai meditasinya? Akhirnya setelah sekitar 2 menitan si Bapak turun dan menghampiri. Senyam-senyum dan memberi alasan kalo si Bapak lagi ngantuk karena bla bla bla. Lalu bla bla bla lagi. Karena gak ada inisiatif memberikan penawaran solusi akhirnya aku yang menodongkan pertanyaan “Jadi gimana nih Pak?”. Si Bapak menyarankan supaya aku membawanya ke bengkel kenalannya. Untuk sementara aku iyakan dulu saat itu.

20140214-122535.jpg

Ngintip

Begitu masuk ke ruangan langsung deh menghubungi hubby. Seperti yang kuduga, hubby gak mengizinkan membawanya ke bengkel sembarangan. Harus bengkel resmi Honda. Akhirnya siangnya kebetulan hari Jumat pulang cepat, aku langsung ke bengkel Honda. Untung bisa diperbaiki dan distel ulang dengan total biaya Rp 220.000. Untuk lecet-lecetnya, tau sendiri kan kalo mobil lecet itu gak bisa dicat hanya bagian lecetnya saja melainkan harus semuanya. Satu bumper biayanya Rp 780.000. Untuk yang ini aku berbaik hati menundanya dulu deh. Yang penting pintu bagasinya sudah kembali seperti semula.

Aku sengaja gak ngasih tau langsung ke si Bapak kalo mobil sudah kuperbaiki di bengkel. Kepengen tau aja sampe mana rasa tanggung jawabnya. Bener aja … sampe 1 minggu gak ada muncul-munculnya. Apa nanyain kek gimana mobilku, apa nelpon kek basa basi lagi nawarin bengkel. Ini nggak sama sekali.

Jadinya minggu depannya aku samperin ruangannya. Cerita sana sini sebagai sedikit pengantar. Lalu aku sodorkan kuitansi dari bengkel. Tau apa responnya? “Jadi gimana nih?” Hellooowww … di mana-mana juga yang nabrak itu yang harus bertanggung jawab dong? Kok masih harus nanya lagi gimana? Ya jelas banget kan kalo Bapak harus ganti. Aku mengembalikan pertanyaannya dengan menjawab “Gimana baiknya menurut Bapak lah”. Lalu segera kutinggalkan ruangan.

Di sini bukan soal besar biayanya yang kupermasalahkan. Tapi rasa tanggung jawabnya. Lagian kerja di perusahaan yang sama ya tahu sama tahulah golongan/pangkat masing-masing. Jadi menurutku sudah sewajarnya kalo aku menuntut hakku. Si Bapak berani lalai, mengemudi sambil ngantuk, berani juga tanggung jawab dong. Masa’ dia yang salah tapi aku yang menanggung akibatnya. Uang segitu mah harusnya kecil buat si Bapak.

Mungkin akan lain ceritanya kalo si Bapak meminta maaf, mengaku salah dan memohon supaya gak perlu ganti rugi. Ini si Bapak gak bilang satu pun dari ketiga itu.

Tunggu punya tunggu, masih gak ada kabar. Minggu depannya aku telepon. Aku masih gak bisa terima si Bapak pura-pura gak tau tanggung jawabnya. Sama teman sekantor aja begitu. Gimana kalo dia nabrak orang lain yah? Lalu … merembet ke … gimana tanggung jawab dalam pekerjaannya yah? Dan gimana-gimana lainnya … Si Bapak akhirnya sadar juga dan menjanjikan minggu depannya akan diganti. Fiuh. Di titik ini aku mulai lega. Si Bapak mulai menunjukkan itikad baik.

Tapi jangan senang dulu. Apakah minggu depannya si Bapak mengganti uang itu? Hohoho … benar sekali … tidak ada kabar. Sampai aku harus mengirim OB untuk menagih. Segitunya yah. Well, you can run but you can’t hide. Aku gemas dan gak bisa membiarkan. Jadi mau gak mau aku merasa perlu kirim orang buat nagih. Masih berusaha menunda, si Bapak bilang ke OB kalau jam 10 aja datang lagi. Akhirnya jam 12 amplop itu datang via OB. Dan tebak berapa isinya? Di kuitansi bengkel yang kukasih tertera Rp 220.000 tapi yang digantinya hanya Rp 200.000. Ke mana 20.000 nya? Tanya ke rumput yang bergoyang.

Sekali lagi aku bilang, bukan besar kecilnya uang yang kupermasalahkan. Aku melakukan ini karena gak bisa kubiarkan orang lari dari tanggung jawab. Ini persoalan moral bangsa Indonesia, bung! #lebaymode

Aku menulis posting ini gak bermaksud menjelek-jelekkan si Bapak. Lagian makna menjelek-jelekkan itu kan yang bagus dibilang jelek. Kalo ini kan aku bilang apa adanya, fakta.
Nah, kalo bukan karena itu lantas karena apa dong? Gini gini gini, soalnya sampe sekarang gondoknya masih terasa, dalem banget lagi, hahaha … I want to get over it. Biasanya terapi menulis bisa membantuku menghilangkan gondok. Apalagi kalo nulis cek … hihihi. Tapi gondok aja ya, bukan gondokan …

20140214-122557.jpg

Gondok!

Selain itu, cerita ini di-sharing di sini untuk makin menyadarkan kita yang memegang amanah sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak lebih baik lagi supaya kelak ketika mereka dewasa mereka akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain.

4 thoughts on “Ini Akibat Mengemudi Saat Ngantuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s