Tulisanku Dijiplak Orang: Etika Menulis

Di WordPress (WP) ada fitur statistik yang menunjukkan kata search apa yang digunakan orang sehingga membuat terdampar di blog kita. Contohnya untuk blog ini salah satu kata search yang sering dicari orang di google adalah: tips menahan tangis, tips menahan air mata, cara menahan air mata, dsb (nggak, kalo tips menahan buang angin gak ada). Keyword itu akan membuat pencarian terdampar di postinganku yang bertopik Tips Menahan Tangis (klik ini). Hmmm … ternyata banyak juga orang cengeng di muka bumi ini selain aku. Uhuy, banyak teman!🙂

Postingan Asli.jpg

Postingan Asli

Didorong rasa penasaran blog mana saja yang juga menulis tentang tips menahan tangis aku iseng-iseng mencari di google menggunakan keyword yang sama. Ehhh, gak disangka-sangka malah ketemu sama tulisan di blog lain yang serupa banget dengan postinganku yang tadi. Sampe ke titik komanya. Hanya bedanya si penjiplak mengganti kata ganti “gw” (yang sebelumnya selalu aku pake) menjadi “saya” atau “cewek”. Selain itu ada juga beberapa kalimat yang dihapus. Tapi tetap saja semua itu gak bisa menghilangkan ciri bahwa postingannya diambil dari blog ini. Kalau mau ke TKP, google aja deh pake keyword itu, pasti ketemu. I don’t wanna link her damn blog here.

Postingan Palsu.jpg

Postingan KW

Aku sih sama sekali gak keberatan kalau tulisanku disalin atau dicuplik. Justru bagiku kalau tulisan kita dicuplik itu sama saja dengan pujian tidak langsung yang tinggi untuk penulis. Berarti kan tulisan kita bagus menurut mereka dan layak diposting ulang (hohoho … padahal mereka cuma terlalu malas).
Lagian postinganku itu menurutku sih biasa-biasa aja, bukan yang hebat kali yang bisa meraih piala Citra (eh?). Tapi kan ada etika menulis. Jika tulisan kita mencuplik tulisan orang lain, kalau gak niat sempat minta izin ke yang punya blog, paling gak yah mencantumkan sumbernya kek. Itu sudah cukup sih ya. Hargai dong hasil karya orang lain.

Ada juga postinganku tentang tanaman dadap merah (klik sini) yang dicuplik di forum kaskus. Bisa taunya karena di WP ditampilkan kalau banyak referrer yang berasal dari kaskus, jadi aku kliklah link itu dan nampaklah kalau postingan dadap merah dicuplik di situ. Bagusnya pencuplik mencantumkan sumbernya. Jadi bisa dianggap end of story deh.

Nah, jadi apa yang kulakukan terhadap si penjiplak yang gak bisa menahan tangis tadi? Aku ninggalin komentar di postingan itu pura-pura bego bertanya-tanya kalau aku pernah baca postingan itu di suatu tempat. Maksudnya sih kalau nantinya direspon baru mau kutegur. Tapi sampe saat ini komentar itu belum di-approve dari yang punya blog. Ya sudahlah.

Mudah-mudahan ini menjadi pengingat juga untukku kalau dalam dunia tulis menulis ini ada etikanya yang sudah disebutkan tadi. Siaran ulangan: jadi begini etikanya saudara-saudara sebangsa dan setanah air …. jika kita mencuplik tulisan orang lain seharusnya kita minta izin terlebih dahulu ke yang punya tulisan. Atau jika minta izin dirasa terlalu ribet kita cukup mencantumkan dari mana kita mencuplik tulisan itu. As easy as that. It’s not too much, is it?

4 thoughts on “Tulisanku Dijiplak Orang: Etika Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s