The Art of Slow Travel

Apa yang kalian lakukan ketika sedang liburan ke suatu tempat? Pasti sebagian besar akan menjawab: 1) mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal yang ada di daerah tujuan sebanyak mungkin dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. 2) Dan tentu saja, berfoto sebanyak-banyaknya.

Sama, kami juga seperti itu. Jadi biasanya sebelum berangkat, aku akan google mencari tempat-tempat wisata yang terkenal di kota tujuan, memilih mau pergi ke mana kemudian membuat daftar tempat yang akan dikunjungi sesuai dengan jumlah hari kunjungan.

Sampai di tujuan biasanya pelaksanaannya gak meleset jauh dari rencana. Sebanyak mungkin tempat dan sebanyak mungkin foto, hahaha …

Awal-awalnya pernah waktu kami berangkat tanpa perencanaan mau pergi ke mana dulu, akhirnya di hari kedua kami malah mengunjungi tempat wisata yang ternyata berlokasi persis di sebelah tempat wisata yang kami kunjungi di hari pertama. Boros banget kan? Ya waktu, ya transportasi. Jadi sejak itulah aku selalu membuat rencana dulu sebelum bepergian.

Begitu juga waktu mau travelling baru-baru ini, pas liburan tahun baru kemarin. Dua malam berturut-turut aku tidur larut sampe jam 12 malam hanya untuk nyari-nyari di internet, blog walking sana kemari, tempat yang menarik buat dikunjungi.

Namun sekali ini dampak sistemiknya (aseek bahasanya sok Century) di luar dugaan. Hasilnya adalah … aku sukses diserang flu pas sebelum hari keberangkatan! Huuuuh … faktor U emang gak bisa dilawan (tuwir banget sudah ya, baru nyadar). Sudah tau dilarang bang Rhoma masih aja bandel. Begadang jangan begadang …

Parahnya, bukan hanya aku yang sakit. Rifky si bungsu juga diserang demam. Kalo Rifky penyebabnya adalah karena dua hari sebelum berangkat bermain-main terlalu dekat dengan si Lewis Al Buchori sampe peluk-pelukan padahal Rifky alergi dengan bulu kucing. Bener-bener pelajaran sakit yang mahal.

Walaupun begitu, kami memutuskan untuk tetap berangkat berhubung tiket pesawat dan hotel sudah di-booking jadi gila aja kalo mau dibikin hangus karena gak bisa di-refund semua kan. Lagian sakitnya gak gitu berat dan kami pikir bisa beristirahat di kamar hotel.

Nah, gara-gara sakit ini tentu buyar semualah rencana perjalanan yang sudah disusun sebelum berangkat. Padahal rencananya cukup ambisius karena ada termasuk rencana mengunjungi negara tetangga di seberang negara tetangga. Pokoknya udah ngalahin jadwal presiden lah (halah).

Ujung-ujungnya, kami malah kebanyakan hanya berleha-leha di hotel. Selama 4 hari 3 malam di sana, hanya 2 tempat yang dikunjungi. Itu pun di hari terakhir ketika kondisi sang 2 orang terpidana sakit sudah mendingan. Sisanya? Leyeh-leyeh dombeh …

But surprisingly, I’ve found a new way in enjoying the travelling. Bisa dikatakan justru aku mendapat pengalaman berlibur yang baru. Ada ketenangan di sana. Ada unsur rileks karena gak ada target mau ke mana. Ada unsur santai karena gak sibuk wara-wiri. Gak ada unsur kecewa ketika gak jadi mengunjungi tempat yang sudah direncanakan.

Aku bisa duduk-duduk dekat jendela mengamati suasana di depan hotel, mobil yang lewat, orang yang lalu lalang, atau bangunan-bangunan. Aku bisa nemenin Rifky main pasir di pantai belakang hotel ketika kondisinya baikan. Aku juga seneng bisa jalan kaki santai melihat-lihat pasar malam dekat hotel bareng anak gades di malam terakhir di sana. The best girls-night-out. Aku juga gak ngerasa bersalah diem aja dalam hotel. Kalo kondisi normal kan rasanya rugi berat deh udah jauh-jauh melancong tapi gak ke mana-mana! Prinsipnya, kalo cuma sekedar tidur-tiduran, mendingan di Medan saja.

Ternyata slow travel enak juga. Memang sih gak persis slow travel dalam arti sebenernya, tapi mendekatilah🙂

Di situs Independent Traveler (klik sini) maksud slow travel sebenarnya seperti ini:

Slow travel is not so much a particular mode of transportation as it is a mindset. Rather than attempting to squeeze as many sights or cities as possible into each trip, the slow traveler takes the time to explore each destination thoroughly and to experience the local culture. Per the slow travel philosophy, it’s more important to get to know one small area well than it is to see only a little bit of many different areas — that way you’ll have something left to see on the next trip.

Jadi intinya kalo slow travel itu kita gak pergi ke banyak tempat melainkan satu tempat aja tapi sebanyak mungkin mengeksplorasi tempat itu termasuk juga budaya setempat.

Justru menurutku dengan slow travel tujuan liburan lebih tercapai. Bukankah salah satu esensi dari liburan adalah untuk beristirahat, keluar dari rutinitas, menenangkan pikiran, recharge our body and soul? So forget about taking photo in popular places as many as possible🙂

Besok-besok kalo travelling mau nyoba slow travel lagi aaahhh. Tapi berikutnya mudah-mudahan gak pake sakit🙂

20140110-222634.jpg

“Lihat banyak burung di sana!”

Depan Holiday Inn.jpg

Jalanan masih sepi depan hotel di pagi hari

Sarapan Holiday Inn.jpg

Menikmati sarapan

20140110-222941.jpg

Menjaga si bungsu sakit. Di sini aku menyadari kalau ciput ninja itu dwi fungsi, bisa sebagai masker juga!🙂

20140110-223029.jpg

Makan malam di restoran berbentuk kapal

20140110-223149.jpg

Bermain ombak

20140110-223209.jpg

Memandangi kota dari puncak bukit. Dan. Merenungi pengeluaran ekstra bulan berjalan.

20140110-223243.jpg

Santai-santai di sore hari di belakang hotel

20140110-223353.jpg

Mencoba naik bus

20140110-223444.jpg

Santai di lobby

2 thoughts on “The Art of Slow Travel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s