Krisis Listrik Sumut: Pilih Menghujat Atau Menghemat?

Krisis listrik di Sumatera Utara memang gila-gilaan. Sebenarnya mulainya sudah lama, sejak sekitar pertengahan tahun 2013 ini mati lampu hampir setiap hari dengan frekuensi bisa kayak minum obat, 3 kali sehari. Aku sebelumnya gak bikin posting karena berharap krisis listrik akan segera usai sehingga gak perlulah bikin ulasan *halah siapa juga yang nungguin ulasanmu, jeng*. Tapi ternyata sampai November sudah mau berakhir ini saja masih terjadi pemadaman. Terpaksalah sekarang dibuat postingan yang cukup panjang ini (dan membosankan bagi yang gak suka panjang-panjang).

Saking gondoknya karena masih saja pemadaman, koran lokal sampai memasang headline besar-besaran “Dahlan Iskan Ingkar Janji” berhubung Pak DI pernah berjanji krisis akan selesai di November. Walaupun pemadaman sudah tidak setiap hari lagi tapi tetep aja yang namanya pemadaman bikin gak nyaman. Ya gelap, ya panas, ya gak bisa beraktifitas normal.

Awalnya memang kami juga mengeluhkan PLN sebagai biang kerok karena ketidaktahuan akan penyebab masalahnya. Tapi makin ke sini makin banyak yang membahas krisis listrik makin terekspos di media (baca juga blog tentang Pak Dahlan Iskan di sini) akhirnya makin disadari kalau masalahnya tidak sesederhana menyelesaikan bola lampu yang mati di rumah.

Lagipula, bekerja di lingkungan kantor yang sekarang selama hampir 10 tahun (ehh baru sadar udah lama juga yah) membuat aku sadar sesadar-sadarnya bahwa selesainya suatu pekerjaan besar tidak tergantung hanya kepada satu pihak saja, melainkan banyak pihak yang terlibat. Contoh kecilnya ketika ada proyek komputerisasi apakah hanya bagian IT yang bisa menentukan kapan selesai proyek tersebut? Hohoho … tentu saja tidak. Justru banyak sekali pihak lain yang mempunyai andil dan tanggung jawab dalam selesai atau tidaknya suatu proyek. Dan ironinya, andil pihak selain IT ini yang malah sangat menentukan. Mulai dari end user yang bertanngung jawab menyelesaikan user acceptance test, komitmen vendor software dalam bekerja sama sampai ke pengambilan keputusan atas kebijakan oleh pemilik proses bisnis. It’s a team work, u know. *loh kok jadi curhat colongan* #lost focus#

Kembali ke listrik, kalau mau mencari siapa yang salah, semua orang mah bisa ya. Apa susahnya sih mengacungkan telunjuk ke muka orang lain. Yang susah itu ke muka sendiri. Kalau mau rame-rame menghujat, itu lebih bisa lagi. Padahal kalau ditelaah lagi (aaah sedap bahasanya, ciyus banget), sebenernya semua pihak salah, termasuklah kita sendiri!

Yang pertama tersangka utama, jelas PLN, dituduh tidak bisa merawat pembangkit-pembangkit listrik sampai ke distribusinya. PLN juga dihujat karena tidak bisa mengestimasi kebutuhan listrik sehingga bikin terjadinya krisis listrik. Tapiii … kalau memang PLN yang salah kenapa Sumut aja yah yang sering krisis? Di Palembang tuh, malah surplus listrik.

Nah sebenarnya, jajaran pemerintah daerah Sumut juga bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan pasokan daya listrik ke masyarakat. Pemerintah daerahlah yang memutuskan memberikan izin atau tidak ke PLN. Dan kenyataannya, susah banget mendapatkan izin untuk membangun PLTA Asahan yang berujung kepada krisis ini.

Terus, salah siapa lagi? Oknum pekerja PLN yang korupsi sehingga uang yang seharusnya untuk PLN malah masuk kantong pribadinya. Atau yang korupsi sehingga spesifikasi pembangkit tidak sesuai.

Terus, salah siapa lagi? Ada lagi salah masyarakat yang gak mau membebaskan lahannya untuk keperluan pembangunan pembangkit listrik di Pangkalan Susu. Gimana mau bangun kalo gak ada lahan?

Terus, salah siapa lagi? Ada juga salah masyarakat yang mencuri listrik sehingga pemasukan PLN berkurang sementara konsumsi listrik bertambah.

Terus? Yaaa salah kita semua di Sumut tercinta ini dong yang gak mau menghemat listrik. Sudah tahu lagi krisis eeehhh bukannya menghemat listrik rame-rame? Lah bayangin aja kalo kondisi keuangan keluarga kita lagi krisis kan otomatis kita dengan sendirinya mengencangkan ikat pinggang. Gitu juga listrik dong.

Hehehe … jadi begitulah, kalau mau nyari kambing hitam sih gampang yah. But now that we’ve found the scape goat, what’s next? Problem’s resolved by finding the scape goat?

Seperti yang selalu aku tanamkan ke anak-anak, kalo sedang ada masalah janganlah fokus ke siapa yang salah. Tapi fokuslah ke apa yang bisa kita lakukan supaya ada solusinya. Ya, kita. K-I-T-A.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mempercepat penyelesaian krisis ini?

Logikanya kan sederhana, pemadaman karena krisis listrik itu umumnya terjadi karena produksi lebih kecil daripada konsumsi. Kalau kita sebagai masyarakat biasa (alias bukan gubernur, bukan direksi PLN, bukan menteri) gak bisa ‘mengontrol’ bagian produksi kan bisa kita mengontrol konsumsi? Dimulai dari mana? Ya diri sendiri dulu dong. Masa’ tetangga?

Eeehh ada yang komentar, ‘Ngapain gue capek-capek mikirin menghemat listrik. Rumah rumah gue, pacar pacar gue listrik gue yang bayar. PLN tuh yang harus genjot produksi!’

Naaah kembali ke poin awal tadi lagi, lebih baik cari siapa yang salah atau cari apa yang bisa dibantu sih?

Gak rugi kok kalo kita menghemat. Malah untung. Sejak lebih menghemat lagi, tagihan listrik di rumah kami berkurang sekitar 100 ribu tiap bulan. Pasti ini juga yang turut menyumbang keberhasilan dalam mengurangi frekuensi pemadaman. Cieeehh … yang penting PD. Yakin dong, buktinya Earth Hour aja.
Perilaku kecil seperti mematikan lampu atau peralatan elektronik yang tidak terpakai adalah hal yang paling mudah dilakukan oleh siapapun. Dengan ikut mematikan lampu bersama di EARTH HOUR, sudah dibuktikan bahwa sekecil apapun AKSI yang kita lakukan, akan berdampak besar jika dilakukan bersama-sama (dikutip dari web site-nya).

Tips menghemat listrik yang lengkap ada di sini yang memang sudah dijalanin sehari-hari. Kalau tips tambahan khusus untuk menghadapi krisis saat ini, sementara sambil menunggu krisis usai ini nih:
1. Mencabut lampu yang ganda, contohnya lampu tidur, jadi cukup 1 lampu kanan aja. Toh masih kelihatan juga.
2. Tidak menghidupkan lampu balkon depan. Memang balkon jadi agak redup dan gak secantik kalau lampu dihidupkan, tapi hey, tidak ada penilaian balkon tercantik tingkat RT dalam waktu dekat ini kan?
3. Salah satu AC kamar dihidupkan pas sudah mau tidur saja atau kalau cuaca sedang panas saja. Jadi selama jam beban puncak diusahakan gak hidup. Untungnya antar kamar terhubung pintu koneksi, jadi selama pintu koneksi dibuka dapat kiriman udara dingin dari kamar sebelah.
4. Timer off AC diset lebih awal, jam 4 pagi. Jam 4 pagi kan bukan jam beban puncak? Ya gitulah, saking krisisnya pagi pun suka pemadaman.

Tips satu lagi, khusus untuk yang curi listrik nun di sana … wooooiii jangan nyuri lagi kao! Ups, kok kayak preman pajak Sambu bahasanya. Maafkan, esmosi jiwa🙂

Jadi bagaimana, pilih rame-rame menghujat atau rame-rame menghemat?

20131128-220856.jpg
Lagi krisis ngidupin lampu begini? Tunda dulu ya!

10 thoughts on “Krisis Listrik Sumut: Pilih Menghujat Atau Menghemat?

  1. kalo cerita menghemat rasanya orang di “medan” itu udah hemat listrik dong. sehari bisa mati berkali2 hehe. di sekitaran rumah aku dan rumah nyokap sih kayaknya kalo gak perlu2 kita gak make listrik, nyalain lampu, ac cuman dipake di kamar tidur utama . palingan kulkas sih nyala trus. Bahkan di rumah kita pake aki mobil untuk make listrik yg kecil2 kayak kipas, charges hp, laptop🙂 tapi tetep aja tuh mati listrik hehe. Kitanya menghemat setengah mati tapi lebih banyak oknum yang lebih “kurangajar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s