Di Usiaku yang Belum 40 Tahun Sudah Terkena Osteoporosis? Oh No!

Ceritanya berawal dari pemeriksaan kepadatan tulang yang diadakan oleh klinik kantor, untuk deteksi dini osteoporosis. Tahun ini pemeriksaan diadakan di ruangan HRD yang tidak jauh dari ruangan gw, jadi gw bisa menyempatkan diri ke sana di pagi hari. Pergi bareng rekan seruangan, sampai di sana sudah tidak begitu ramai. Selagi menunggu antrian yang tidak banyak itu kami ngobrol-ngobrol mengenai kalsium, osteoporosis de el el lah yang terkait dengan tulang.

Gw sih pede-pede aja, secara gw merasa sudah rajin mengkonsumsi susu rutin sekali sehari, makan sayur, ditambah lagi belakangan ini minum CDR, sejak mendapat kabar Mama terkena osteoporosis.

Petugasnya menggambarkan bahwa batas ‘lampu merah’ di alat pengukur kepadatan tulang itu adalah -2.5. Yang artinya jika hasil tes kita di angka itu kita harus segera konsultasi ke dokter karena itu batas awal osteoporosis. Batas normalnya sendiri adalah -1. Sementara, di antara -1 dan -2.5 dikategorikan osteopenia, kira-kira lampu kuningnya lah.

Rekan-rekan sekantor gw yang laki-laki rata-rata bagus. Ada yang 0, ada yang -0.8. Yang perempuan cukup mengkhawatirkan, ada yang -2.3, bahkan ada yang -3.

Dan tibalah giliran gw. Petugas mengolesi alat dengan gel. Tumit gw sandarkan di alat tersebut. Alat membaca. Menghitung. Berpikir. Berpikir keras. Berpikir lebih keras lagi … kasih tau gak ya?
Dan hasilnya adalah … *dum dum dum … latar belakang bunyi drum* … -2.5!
Gedubrak!

Gw nyaris gak percaya. Me? Osteoporosis? Belum 40 tahun gitu loh?! “Ah, rusak ini alatnya, Bang … Coba diperbaiki dulu pake script SQL!”, kata gw.
Si abang petugas cuma bisa memandangi gw dengan tatapan oh-kasihan-kau-si-jompo dan berkata “Ibu segera konsultasi aja ke dokter.”
Huhuhu …

Dan resmilah sudah hari-hari gw sebagai seorang manula dimulai … *latar belakang lagu Ebit G. Ade – kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras … *

Gw langsung curhat ke Mama, sebagai sesama manula. Apalagi Mama sudah lebih berpengalaman menjalani perawatan sebagai penderita osteoporosis, jadi gw butuh informasi apa saja yang perlu dilakukan. Kesimpulan yang gw ambil adalah, gw harus segera melaksanakan step di bawah ini.

Step one: Manula harus banyak berjemur supaya mendapatkan vitamin D yang membantu penyerapan kalsium. Nah, kebetulan hari Minggu itu cerah. Untungnya jendela kamar Rifky menghadap matahari terbit, dan sinarnya jatuh tepat di atas kasur. Tempat berjemur yang sangat ideal. Jadi gw bisa berleyeh-leyeh berjemur ala selebritis Barat di pantai *if-u-know-what-I-mean*. Pokoknya semuanya dijemur! Atas-bawah, depan-belakang, kiri-kanan. Kalo ditaburin garam, gw sudah bisa jadi ikan asin. Kalo digantung, gw udah jadi jemuran. Mudah-mudahan paparazzi yang memotret Pangeran William dan Kate di pantai tidak mampir ke Medan. Jika tidak, pasti foto gw sudah diambil diam-diam dan diterbitkan di majalah Vogue dengan keterangan foto ‘Don’t try this at home‘. Ritual baru berjemur ini juga membuat gw bagaikan terlahir kembali … yeah, terlahir kembali sebagai bayi kuning kelebihan bilirubin.

Step two: olahraga yang bagus untuk tulang adalah olahraga beban. Salah satunya naik turun tangga. Berhubung kalo naik turun tangga rumah gw perkirakan bakal bikin pusing karena tangga rumah berbentuk huruf U, gw memanfaatkan pijakan kecil yang biasa Rifky pakai kalau sedang sikat gigi di westafel. Hap naik, hap turun! Untung cuma naik turun tangga yah. Kalo naik turun kuda repot juga harus ke Brastagi.

Step three: setelah membeli sepasang barbel 1 kg di Gramedia gw latihan angkat barbel di rumah dengan semangat. Hap angkat, hap turun! Hap lempar ke suami kalo gak mau beli-in berlian lagi!

Step four: konsumsi susu cair full cream langsung diganti dengan susu cair high calcium dengan frekuensi ditambah menjadi dua kali sehari. Konsumsi CDR diusahakan setiap hari.

Step five: mengurangi konsumsi makanan yang menggerus kalsium, contohnya kafein. Tapi khusus untuk step ini, gw hanya bisa bertahan satu hari berhenti ngopi di kantor. Besoknya, dengan sangat terpaksa gw minum lagi. Daripada kepala gw jadi pusing?

Penderitaan gw semakin lengkap karena begitu mengetahui kabar ini, alih-alih merasa jatuh kasihan lalu memijit gw setiap malam, justru anak-anak dan misua menjadikan gw sasaran empuk. Waktu Rifky menarik-narik tangan gw misua langsung mencegah ‘Ky jangan … Nanti tangan Mama lepas …’. Atau, ‘Ky jangan main kuda-kudaan sama Mama, nanti punggung Mama patah …’
Sementara Nadya dan Rifky mengolok-olok gw dengan menirukan kebiasaan Oma menepuk-nepuk pinggul setiap bangkit dari duduk *forgive your grand-children, Mom!*

Dan kemudian, akhirnya kami berhasil juga mengunjungi dokter spesialis tulang untuk konsultasi lebih lanjut, setelah beberapa minggu tertunda karena sok sibuk. Dokternya sendiri juga sempat gak percaya kalo gw osteo. Ya iyalah, wajah imut tanpa dosa begini kok osteo. Waktu gw tanya pemeriksaan apa yang lebih akurat dan komprehensif, beliau memberi rujukan untuk Dexa scan di RS. Setiabudi. Karena waktu itu sudah malam, besoknya Sabtu sepulang gw kerja barulah kami ke sana.

RS. Setiabudi terletak di Jl. Mesjid Medan. Mengkhususkan diri sebagai rumah sakit ortopedi dan tulang, bangunan rumah sakit ini tidak terlalu besar tapi bersih, rapi dan cantik. Biaya Dexa scan 750 ribu *sigh*, dengan lama scan sekitar 30 menit. Tulang yang di-scan adalah tulang belakang, panggul dan tangan, yaitu tulang-tulang yang berakibat fatal jika terkena osteo. Jadi gw berbaring di meja periksa kemudian di atas gw ada alat yang bergeser-geser memindai tulang gw. Gw baru merasakan, beginilah rasanya menjadi kertas saat di-scan. Deg deg-an yah kertas! Pantas saja kertas warnanya putih. Untungnya dexa scan tidak menggunakan metode yang sama di mana scanner ditutup sampai kertas terjepit.

Hasil scan langsung dicetak saat itu juga, dengan penyajian data yang cukup bisa dipahami orang awam seperti gw. Tidak perlu menjadi seorang dokter dulu untuk bisa menafsirkan hasilnya. Saat mengambil hasilnya, gw tambah deg deg-an. Rasanya seperti mengambil rapot, rapot tulang. Tenang tulang-tulangku, Mama tidak akan marah pada kelen mengenai nilai rapot kelen ini. Kalo nilainya bagus alhamdulillah … Kalo nilainya jelek, awas saja nanti dibuat sop tulang mau?

Dan hasilnya adalah … *terereret tereeeett … latar belakang bunyi terompet* … tulang belakang -0.4, tulang panggul -1.1 dan tulang tangan -0.5. Yeepee! Horeee! Gw TIDAK osteoporosis!

Dan resmilah sudah hari-hari gw sebagai seorang manula berakhir … *latar belakang lagu Chrisye – aku masih anak seekoolaah, satu SMA …*

Eh, tapi … tetep saja ding, walaupun sudah tidak manula lagi gw teteup kudu menjalankan semua step itu karena memang sudah seharusnya di umur yang mendekati 17 40 tahun ini gw lebih memperhatikan kesehatan. Apalagi angka tulang panggul yang -1.1 itu sudah lampu kuning. Yang artinya penurunan kepadatan tulangnya lebih cepat dibanding pertumbuhannya. Jadi, waspadalah, waspadalah.

Mengenai mengapa hasil pengukuran di kantor yang gratis itu bisa berbeda dengan Dexa scan, gw merasa tidak perlu terlalu mempermasalahkannya (pasti memang script SQL-nya harus diperbaiki). Justru sisi positifnya adalah hal ini menjadi semacam shock therapy. Mungkin kalau hasilnya bagus gw akan santai-santai terus sampai semuanya sudah terlambat. Sekarang perubahan yang paling terasa adalah mindset gw tentang matahari. Kalau dulu gw penghindar sinar matahari pagi, maka sekarang gw menjadi pencari sinar matahari pagi.

Hasil Dexa Scan Tulang Belakang

6 thoughts on “Di Usiaku yang Belum 40 Tahun Sudah Terkena Osteoporosis? Oh No!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s