Bosan dengan Kemacetan? Cari Jalan Tikus Yuk!

Jalan utama di kota Medan yang macet terutama di pusat kota saat jam-jam sibuk membuat kita sebaiknya mencari jalan alternatif supaya bisa sampai di tujuan dengan lebih cepat. Terlebih lagi pada saat bulan puasa kemarin di waktu sore menjelang buka puasa, muacetnya pooolll … !

Di saat-saat memiliki waktu yang cukup senggang, lebih baik dimanfaatkan untuk mengeksplorasi jalan-jalan alternatif di samping rute yang biasa ditempuh untuk mencari rute baru yang lebih lancar. Juga supaya bisa digunakan ketika suatu saat rute normal itu macet, tanpa harus tersesat atau mutar-mutar atau justru terjebak macet yang lebih parah. Kalau kita sudah tahu daerah yang akan dilewati itu macet, kenapa juga masih kita lewati, menambah-nambah volume kendaraan saja? Banyak jalan menuju Roma. Maka banyak juga jalan menuju Sunggal (rumah gw – red).

Tentu saja, yang namanya jalan tikus biasanya lebih kecil dibandingkan jalan biasa (kalo lebih besar namanya jalan gajah dong). Dan biasanya, karena memotong jalan besar, rutenya belok-belok, belok kanan – belok kiri. Bahkan ada juga jalan tikus yang sedikit memutar. Tapi keunggulannya adalah lancarrr … tidak banyak mobil yang lalu lalang. Bukankah di dunia ini tidak ada serba sempurna? Anda ingin jalan yang besar, tidak macet alias bebas hambatan sewaktu jam sibuk, dan tetap tidak bayar sewaktu melewatinya? Come on … you’ve gotta be kidding me! It’s like you want Brad Pitt, Steve Jobs and Sylvester Stallone in one body (well, for me one Brad Pitt in one body is enough, hahaha …*hush!*).
Hidup ini pilihan. Mau tetap lewat jalan besar tapi macet, atau mau lebih lancar tapi jalan lebih kecil? Mau prioritas mempersingkat waktu tempuh atau memperpendek jarak tempuh? Mau pasrah dan hanya bisa mengeluh tak berkesudahan lalu mengomentari pemerintah tidak berjuang apa-apa kemudian menjadikannya status Facebook atau kita sendiri berjuang mencari solusi?

Titik kemacetan biasanya terletak di persimpangan lampu merah akibat antrian mobil yang menumpuk. Atau di pusat keramaian akibat banyak mobil parkir di bahu jalan atau banyak orang berjalan sehingga menghambat arus lalu lintas. Jadi rute jalan tikus yang memenuhi kriteria gw adalah yang paling sedikit lampu merahnya, yang sepi dan kondisi fisik jalannya harus yang tetap mulus dong. Percaya atau tidak, justru karena tidak banyak dilewati mobil rata-rata jalan kecil itu relatif masih mulus! Paha Ayu Azhari aja lewaaat.

Sekarang kita hitung-hitungan menitnya. Kalau di satu lampu merah saja kita tertahan dua menit, jadi misalnya 6 lampu merah kita lewati berarti sudah 12 menit terbuang sia-sia? Pulang pergi 24 menit. Satu minggu 144 menit. Satu tahun hampir 125 jam! Belum lagi menit-menit yang terbuang ketika melewati pusat keramaian. Hadeuhhh … tua di jalan kan.

Tips mencari jalan tikus itu sederhana. Tidak perlu muluk-muluk melihat peta. Apalagi sampai harus menggunakan teori pembebanan lalu lintas yang rumusnya T = T0 ( 1 + 0.15 (V/C)4) itu. Mungkin memanfaatkan GPS juga bisa sih. Tapi … nilai misterinya (yaitu di manakah jalan ini berakhir?) jadi berkurang🙂

Tipsnya adalah … cari yang banyak tikusnya. Hehehe … gak lah. Cari yang ada Tom and Jerry *mulai ngelantur*.
Tipsnya adalah jika ketemu persimpangan kecil di sela-sela jalan utama coba saja belok. Teruskan jalan sampai ada tembusan. Yah, kalo lagi apes, paling-paling jalannya buntu. Dalam beberapa ekspedisi eksplorasi mouse way (hadeh istilahnya), gw sempat dua kali mengalami hal itu. Waktu itu pulang dari mengantar Rifky sekolah gw mengeksplorasi jalan keluar sekolahnya yang belok kanan (rute normal kami belok kiri). Akibat gak menuruti feeling, rute yang gw coba makin lama jalannya makin kecil, lalu buntu! Diperparah gak ada tempat memutar, akhirnya gw mundurin mobil sekitar 500 meter sampai ada lapangan kecil untuk memutar. Untung jalannya sepi, jadi mundur sepanjang itu tidak berpapasan dengan mobil lain, hanya motor dan sepeda.

Saat coba-coba, perlu juga ada sedikit dibekali ilmu ruang supaya tidak mutar-mutar di situ aja dan bisa-bisa berakhir di tempat yang sama. Proses mencari jalan tikus menimbulkan kepuasan tersendiri jika kita dapat menemukan rute yang baru. Rasanya seperti mmmmhh … uhhhh …. gitu deh!

Terutama untuk yang berdomisili di Medan, ini nih sebagian dari jalan tikus yang sudah gw bedah. Rute warna merah itu rute jalan utama. Kalo rute warna hijau itu rute jalan tikus. Peta diambil dari google map supaya lebih jelas rutenya. Klik gambarnya untuk memperbesar.

1. Dari Gatot Subroto (daerah Petisah) menuju ke Sunggal (tengah) [ini jalan tikus terfavorit gw!]:
Rute jalan utama: Gatsu – Iskandar Muda – Gajah Mada – Sei Batang Hari – Sei Sikambing – Sunggal. Total ada 6 lampu merah. Titik macet: Medan Fair, Gajah Mada, Sei Sikambing.
Jalan tikus: Gatsu – Nibung – Bima Sakti – Iskandar Muda – Sei Babalan – Sei Wampu – KH Wahid Hasyim – Sei Mencirim – Darussalam – Sei Rokan – Setiabudi – Taqwa – Sunggal (hehehe … karena banyak beloknya, jadi banyak juga jalan berbeda dilewati). Total lampu merah: Tidak ada. Titik macet: Tidak ada.

2. Dari Yos Sudarso (pangkal) menuju Gatot Subroto (Medan Fair):
Rute jalan utama: Yos Sudarso – Adam Malik – Gatot Subroto. Total lampu merah: 2. Titik macet: Petisah.
Jalan tikus: Yos Sudarso – Karya Cilincing – Karya – Gereja – Sekip – Gatot Subroto. Total lampu merah: 1. Titik macet: tidak ada.

3. Dari Karya menuju Kapten Muslim
Rute jalan utama: Karya – Tengku Amir Hamzah – Kapten Muslim. Total lampu merah: 2.
Jalan tikus: Karya – Pembangunan – Kapten Muslim. Total lampu merah: 1.

4. Dari Sunggal ke Setiabudi
Rute jalan utama: Sunggal – Setiabudi. Total lampu merah: 2.
Jalan tikus: Sunggal – Gagak Hitam (Ring Road) – Perjuangan (atau lewat Abadi juga bisa) – Setiabudi. Total lampu merah: 1.

5. Dari Sunggal ke arah Airport Polonia

Nah, sudahkah Anda mempunyai jalan tikus?

7 thoughts on “Bosan dengan Kemacetan? Cari Jalan Tikus Yuk!

  1. hahhaa…keren mba, aku ama suami juga biasanya dari nibung, tapi tetep ajah rute Putri Hijau – Simalingkar ngelewatin area macet yang buat kita belajar bersabar, hahaha…

    • iya, saya bersyukur tipe jalan di medan masih banyak cabang-cabang kecilnya, jadi bisa agak ‘leluasa’ milih alternatif jalan. jadi jalan tikus yang saya pilih rata-rata masih lengang sih. malah ada beberapa yang sepi banget, serasa jalan milik sendiri🙂

  2. Pingback: Tips Mencari Jalan Tikus | The Chronicle of Wiek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s