Lalu Lintas di Medan yang Semrawut: di Mana Salahnya?

Hayo motor, hajar aja lampu merah

Dari pertama kali pindah ke kota Medan tahun 2001 sampai detik ini, gw masih selalu ‘terkagum-kagum’ dengan keanekaragaman lalu lintas di kota ini. Gimana gak beranekaragam coba, lampu merah sisi utara yang ijo tapi kendaraan dari sisi barat juga jalan, sepertinya mereka yang di sisi barat itu berasa merah ke-ijo-ijoan. Ada yang lampu merahnya mati semua. Ada juga yang lampu merahnya idup semua merah-kuning-ijo di langit yang biru. Ada lagi angkot yang hanya Tuhanlah yang tau kapan dan di mana supirnya akan berhenti. Beranekaragam, bukan?

Selain beranekaragam, lalu lintas Medan juga adil dan merata. Hari ini lampu merah di simpang Gatot Subroto-Ring Road yang mati total. Besok, gantian yang di simpang Setiabudi-Ring Road. Lalu di persimpangan tanpa lampu merah, semua kendaraan nyosor masing-masing merasa prioritasnya nomor satu. Adil dan merata, bukan?

Pertama kali pindah, gw terkesan dengan satu peristiwa yang sampe sekarang gw gak lupa. Jadi ceritanya, waktu itu gw lagi nyetir di jalan Setiabudi. Di depan gw ada mobil gede tinggi, model-model off road gitu. Bannya besar. Di sepanjang jalan kami beriringan itu memang tidak ditemukan U-turn. Kelihatannya si supir gak sabar menunggu ada belokan untuk beralih arah. Tau apa yang dia lakukan? Bukan, dia tidak mengangkat mobilnya, dari belakang gw gak ngeliat ada sayap di punggungnya kok (emang keliatan apa?). Gw rasapun kalo supirnya turun, celana dalamnya pasti gak dipake di luar tuh. Tidak, tidak … dia juga tidak menggali marka jalan untuk membuat rute belokan baru.

Yang dia lakukan adalah … jreng, jreng, jreng … secara tiba-tiba membelokkan mobilnya menerjang marka jalan, naik sebentar di atas rerumputan untuk kemudian turun kembali dan secara sukses telah berada di jalur jalan yang berlawanan!

Ada lagi satu peristiwa pengalaman pertama gw diklaksonin supir angkot dari belakang dan diteriakin kenceng-kenceng, gara-gara gw dengan tertibnya berhenti di lampu merah. Gw waktu itu panik -maklum pertama kali, celingak-celinguk nyari apa ada rambu yang menunjukkan boleh terus. Setelah yakin gak ada rambu yang kira-kira menyatakan ‘Lampu merah ini hanya fatamorgana belaka. Lurus hati-hati’, dan merasa pasti 150% kalo gw bukan penganut buta warna, apalagi si buta dari goa hantu, gw jadi lebih tenang menunggu lampunya ijo. Biarin aja si supir angkot yang masih semangat ngelaksonin gw, ngefans mobil gw kali yeee …

Lain cerita, waktu kami naik taksi Blue Bird mo ke airport Polonia, supirnya sempat curhat kalo Blue Bird mengalami kesulitan merekrut supir di Medan. Mengapa? Karena banyak supir yang gak lulus ujian. Akibatnya Blue Bird Medan banyak merekrut supir dari Jawa.

Saking niatnya melawan lampu merah, truk ini sampe melawan arah dan membelakangi lampu merah *nasib mobil sedang diderek yang dituduh semena-mena*

Lama-lama hal ini membuat gw jadi bertanya-tanya, di mana salahnya. Apa yang salah dengan penduduk kota ini? Seharusnya, dengan penduduk yang hampir semuanya ingin cepat, kota Medan sudah jauh lebih maju ratusan tahun lalu! Kalo dibanding-bandingkan dengan kota-kota lain yang pernah gw kunjungi, gak ada yang separah kota Medan tercinta ini. Mau motor, mau mobil, mau angkot, mau Honda CRV, semua melanggar lampu merah. Okeh, mungkin Jakarta parah juga. Tapi masih menurut pendapat gw, tidak kayak Medan, di mana jika sedang di perempatan jalan tidak ada serombongan (ya serombongan satu kelurahan yang berjemaah, bukan hanya satu-dua) kendaraan yang melanggar lampu merah, hal itu malah membuat gw bertanya-tanya … ‘apa si Komo lagi gak lewat yak?’. *Salah neng, si Komo mah bikin macet, bukan bikin orang melanggar lampu merah!

Gw melakukan riset. Mencoba menyelidiki apa yang telah terjadi. Ala trio detektif (hehe .. jadul banget … bacaan favorit gw di masa kecil). Membolak-balik buku. Menjelajahi internet. Pergi ke kantor polisi. Menginap di sana berhari-hari. Berbulan-bulan. Jadi kesimpulannya adalah … semua ini karena sebagian besar supir Medan itu SIM-nya nembak! Yeeeeee … semua orang mah tau itu yah. Oke, delapan kalimat pertama di paragraf ini mungkin cukup lebay. Gw sebenernya gak gitu-gitu amat.

Nah, jadi karena dapat SIM-nya nembak, berarti supir-supir kebanyakan tidak ikut ujian SIM di mana salah satu materi ujiannya adalah pengetahuan dan tata cara berlalu lintas. Eh, tapi setelah diingat-ingat gw pun dulu pertama kali dapet SIM nembak yah … hahaha … (nembak SIM, bukan nembak polisinya). Tapi dulu itu polisinya masih baik berinisiatif menunjukkan materi ujiannya, jadi gw baca-baca. Jadi gw tau doonggg tata caranya … So dikoreksi deh, penyebabnya adalah karena supir itu mendapatkan SIM tembak dan tidak membaca materi ujian. Gw punya materinya nih, dapet dari: polreskotacimahi[dot]com. Dokumen di bawah ini penting untuk dibaca, terutama bagian ‘Hak Utama Pada Persimpangan ‘ supaya tidak semua kendaraan merasa menang sendiri … cukup panjang, tapi lumayan buat nambah-nambahin pengetahuan berlalu lintas!

PENGETAHUAN DAN TATA CARA BERLALU LINTAS

2 thoughts on “Lalu Lintas di Medan yang Semrawut: di Mana Salahnya?

  1. welcome to the real medan.. :..”ini medan bung ! gak ada lampu merah yang ada merah jambooo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s