Ikan Sang Teroris

Minggu pagi yang cerah … kembali gw mendapatkan mood memasak! Menurut gw, mendapatkan mood memasak sama dengan mendapatkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Bukti persamaannya adalah: pertama, malam Lailatul Qadar sangat sulit didapatkan. Dan kedua, di malam Lailatul Qadar kita berdoa sebanyak-banyaknya. Di hari gw mendapatkan mood memasak, keluarga kecil gw pun akan berdoa sebanyak-banyaknya. Semoga masakan hari ini gak hangus lagi … semoga masakan hari ini gak keasinan lagi …

Menu istimewa di hari ini adalah … ikan bakar. Untuk pasangannya gw berkolaborasi dengan Irma karena Nadya kepengen makan tumis buncis masakan Irma yang kerenyes-kerenyes. Gw ke pasar dengan Irma dan Rifky. Kami ke toko ikan kecil di sudut pasar yang khusus menjual ikan segar yang masih dalam bak. Salah satu yang gw benci dalam hal membeli hewan yang masih hidup untuk dimakan adalah kita harus menyaksikan suatu pembunuhan berencana di mana kita adalah dalangnya. Setelah memilih ikan-ikan gurami yang segar, si abang penjual segera mengeksekusinya. Dan cara pembunuhannya tergolong sangat sadis. Ikan-ikan tak bersalah itu dipukul kepalanya sambil dibanting ke lantai.

PLETAK! Yak, dipukul sampai mati saudara-saudara!

Apa salah ikan tersebut? Apakah ikan-ikan itu teroris? Nazaruddin yang korupsi aja tidak dibunuh dengan sadis seperti itu, tapi cukup dipenjarakan. Mengapa ikan-ikan itu tidak dipenjara saja? *loh, kok?* Irma yang sepertinya pertama kali menyaksikan hal tersebut, menggeleng-geleng kepala takjub. Dia protes ke gw, ‘sadis kali kak bunuhnya’. Gw sebenernya pengen protes juga ke si abang. Tapi gw sendiri gak punya alternatif lain yang lebih baik untuk membuat ikan itu mati.

Disembelih? Leher aja gak punya.

Disuntik arsenik? Ntar dikira mau nyaingin Pollycarpus.

Ditembak? Gak punya pestol.

Dieksekusi di kursi listrik? Ikan gak bisa duduk.

Dikejutkan? Gw belum pernah denger ikan mengidap sakit jantung.

Dibom? Ya, sepertinya ide bagus, karena itu berarti gw gak perlu capek-capek lagi membakar ikan itu. Tapi alih-alih dapet ikan bakar, gw malah dapet BARA ikan.

Dibiarkan mati perlahan di luar air? Ini lebih sadis lagi. Lagian memangnya gw harus menunggu berapa hari?

Ternyata dipukul sepertinya adalah cara yang terbaik. Yah, daripada ikan itu hidup. Gw pernah ngelihat ikannya belum mati tapi sudah dibersihkan isi perutnya sama si penjual. Jadi ikannya masih goyang-goyang. Kasihan … Akhirnya gw cuma bisa pasrah dan berdoa semoga arwah mereka diterima di sisi Allah. Dan ampunilah dosa kami sebagai dalang pembunuhan itu.

*Repost from 28/01/2008*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s