Hujan yang Membangunkanku

Dini hari hampir pukul 1. Gile benerrr … Hujannya keras sekali! Saking lebatnya, gw gak pake istilah lebat lagi, tapi keras. Gw yang sudah tertidur nyenyak sampe terbangun dan lantas gak bisa tertidur lagi, berjaga-jaga atas kemungkinan yang akan terjadi.
Hujannya bagai air ditumpahkan dari atas.
Hujannya bagai orkestra. Kadang tempo menaik, kadang tempo menurun. Kadang suara naik, untuk kemudian menurun lantas menghilang, kemudian menaik tinggi lagi secara tiba-tiba.
Seperti Four Seasons-nya Antonio Vivaldi.
Orkestra seharusnya indah. Orkestra seharusnya bisa dinikmati. Namun yang gw rasakan adalah takut. Ya Allah, apakah Engkau sedang menunjukkan kekuatan-Mu?
Berbagai pikiran menghampiri. Inikah yang dirasakan pengungsi Merapi itu? Ketakutan, kecemasan dan rasa takut kehilangan?
Menatapi anak-anak gw yang sedang tertidur, hati mempertanyakan diri, sudahkah gw menjadi Ibu terbaik untuk mereka? Sudahkan gw menjadi istri yang baik untuk suami gw?
Saat ini hujan sudah berhenti. Suara burung malam mulai terdengar. Hati gw mulai tenang. Saat yang tepat untuk berserah diri pada-Mu ya Allah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s