Ayam atau Bebek?

Di sore hari yang cerah, Nadya dan Rifky berenang bersama. Kolam renangnya terletak di tepi pantai. Cuaca sejuk, angin bertiup sepoi-sepoi … mereka bercanda berdua bersama. Duile … bahasa gw … jadul abissss!

Btw, cerita pengantar di atas sebenarnya benar adanya. Jadi ceritanya mereka berdua sedang berenang. Tiba-tiba seekor burung nongol di tepi kolam renang itu. Dan terdengarlah percakapan seperti ini:

Rifky: “Kak! Kak Yaya! Lihat … ada ayam!”

Gw yang tau betul hewan yang bersayap itu belum pernah berganti identitas menjadi ayam (cek aja KTP-nya) geleng-geleng kepala. Ya oloh … anak gw, anak kota generasi 2000-an kok gini yah. Masa’ burung disebut ayam?

Nadya mencibir: “Yaahh … Rifky … Itu bukan ayam deekkk”. Nadanya begitu meyakinkan. Ahhh … gw menghembuskan nafas lega. Paling tidak, satu anak gw masih normal. Nadya betul-betul menyadari hewan itu bukan ayam. Nadya kayaknya bakal jago nih di pelajaran Biologi nanti. Sudah bisa membedakan yang mana bukan ayam. Lalu Nadya melanjutkan,

“Itu kan bebek deekkk”

Gubrak!

Sang Burung malang, yang sempat dituduh menyamar menjadi ayam dan bebek

4 thoughts on “Ayam atau Bebek?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s