Penertiban PKL Sei Sikambing: Sebuah Ironi

Persimpangan Sei Sikambing dan Gatot Subroto yang dulu seringkali macet akibat banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di badan jalan sekarang sudah lumayan lancar sejak seringnya Kamtib patroli di situ. Terima kasih, bapak-bapak. Gw sebagai pemakai jalan sangat bersyukur dengan penertiban ini. Jalan jadi lancar … memperkecil kemungkinan gw terlambat masuk kantor.

Tapi penertiban ini menyisakan tanya di benak gw. Ke mana pedagang-pedagang itu pergi? Lagipula, tetep aja yang namanya pedagang yah, begitu gak ada yang patroli mereka kembali berjualan di badan jalan. Bolak balik gitu terus. Sampai akhirnya jalan keluar yang ditempuh adalah petugas mendirikan Posko Penertiban Pedagang Kaki Lima di sana supaya petugas bisa stand by.

Kedengarannya biasa aja yah. Coba baca baik-baik lagi, ada yang aneh gak. Kalo belum terasa, coba lihat gambar di bawah ini, pengumuman larangan yang dikeluarkan walikota.

26102009183

Udah? Nah, sekarang coba lihat gambar di bawah ini, gambar posko itu.
PoskoPKL

Udah ketemu sesuatu yang menggelisahkan? Kalo masih belum, perhatikan baik-baik lokasi posko itu berada.
Yaaa … betul sekali temans … Walikota mengeluarkan larangan untuk menempati atas parit … tapi … posko itu sendiri didirikan di atas parit!
Apakah sebuah peraturan itu tidak berlaku bagi pembuat peraturan?

Memang sih peraturannya berbunyi ‘dilarang berjualan di atas parit…’ dan posko ini bukan untuk berjualan. Jadi secara teknis, mereka tidak melanggar peraturan. Tapi esensinya kan atas parit itu gak boleh ditempati. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mereka sendiripun tidak mampu menyelesaikan akar permasalahannya. Tidakkah mereka menyadari pedagang2 itu berjualan di kaki lima/atas parit karena tidak ada tempat lain untuk menampung mereka (atau kalaupun ada mereka tidak mampu)? Mereka sendiri toh tidak mampu mencari tempat lain untuk mendirikan posko, selain di atas parit. Jadi bagaimana bisa mengharapkan pedagang itu tidak menempati atas parit?

Jadi jangan heran begitu tidak ada petugas maka pedagang balik lagi berjualan di atas parit, karena akar permasalahannya tidak diselesaikan. Idealnya solusi yang ditempuh bukan mendirikan posko supaya petugas stand by di sana buat ‘nakut2in’ pedagang. Tapi salurkan mereka ke pasar lain yang masih ada tempat (nah, soal nyari di pasar manakah, itu tugasnya pemda lah … hehehe). Kalau sudah disalurkan dijamin deh mereka gak bakal balik lagi walaupun gak ada petugas jaga. Gak percaya? Coba aja, Pak!

One thought on “Penertiban PKL Sei Sikambing: Sebuah Ironi

  1. Pingback: Gerakan Penghematan Kertas: Sebuah Ironi Lagi « The Chronicle of Wiek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s