Melayat: untuk Lebih Menghargai Kehidupan

Pagi-pagi di hari ini, hari pertama masuk kantor setelah cuti panjang Lebaran, gw diajak melayat ke rumah salah satu Kepala Bagian karena suaminya meninggal subuh tadi.
Hmmm … Gw sempet berpikir, what a bad start for my first day. Dari dulu gw ‘benci’ suasana melayat. Isak tangis, suasana duka, selalu membuat gw gak tahan untuk tidak ikut menangis. Tapi setiap selesai melayat, gw selalu diingatkan untuk lebih menghargai kehidupan, menghargai orang-orang di sekitar kita, terutama orang yang kita cintai.
Tanpa mengurangi rasa sedih atas keluarga yang ditinggalkan, gw merasa alangkah bagusnya jika tangis itu diberikan ketika ia masih hidup. Tangis menyadari kita telah tidak mengurusnya dengan baik. Tangis menyadari waktu yang tidak kita berikan untuknya walau hanya untuk menanyakan kabar. Tangis menyadari betapa kita belum berbakti sepenuhnya. Semua ini supaya kita masih punya waktu untuk memperbaikinya. Semua ini supaya ketika kita ditinggalkan, kita sudah ikhlas karena kita telah puas akan apa yang telah kita lakukan untuknya.
Semoga gw selalu diingatkan akan hal ini. Jangan bosan-bosan ya Allah untuk ngingetin gw …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s