Manajemen Marah

Aduh gw gak tau lagi gimana ngebilangnya. Setiap gw marah2 sama anak gw sesudahnya pasti ngerasa bersalah. Berjanji untuk berusaha lebih sabar lagi. Berjanji untuk menghitung 1 sampai 10 jika ada kejadian yang memicu rasa marah itu. Mengelus2 kepala anak gw. Tapi setelahnya? Terulang lagi. Dan lagi.
Kayak semalam. Semua udah mau bersiap-siap tidur. Nadya baru mulai baca buku cerita, setelah selesai baca Al-Quran. Waktu gw mau mencatat nomor ayat yang barusan dibacanya di buku agenda sekolahnya, gw menemukan bahwa Nadya belum membereskan tas sekolahnya. Baju kotor, kaos kaki kotor, botol minuman, kotak bekal makanan masih menumpuk di dalam tasnya. Sementara yang gw ingat, dari gw pulang kantor sampai mau tidur itu kerjaannya maen aja sama Kak Nada, cucu Bu Nur yang kebetulan lagi nginap di rumah.
Pertama-tama emang gw pelan memanggilnya, ‘Nad, bisa keluar kamar dulu. Coba tengok tasnya’. Tapi melihat responnya yang kurang bagus, wajah cemberut, notasi suara yang menandakan gak suka menjawab pertanyaan gw, marah gw muncul begitu saja. Mulailah omelan-omelan gak penting itu keluar. Mengapa sih gw harus mengomel? Gak bisakah gw cukup memintanya membereskan tas sekolahnya? Apakah karena Nadya anak-anak sehingga gw merasa gw mempunyai kuasa atas dirinya? Apakah karena persoalan lain yang gw hadapi gw lampiaskan ke Nadya? Jika memang begitu, alangkah tidak adilnya gw … egoisnya gw … She’s just a kid. Dont let your bad feeling comes into her …

Akhirnya gw search sana-sini dengan keyword Manajemen Marah. Rata-rata mengatakan kita boleh marah. Tapi harus dikendalikan. Karena kalau marah dipendam justru akan jadi bom waktu. Tips yang gw kenal sangat baik ada di mana-mana: menahan nafas, menghitung 1-10. Hhhh … tips yang sulit dilaksanakan ketika rasa marah itu menyergap.
Jadi intinya yang harus segera gw praktekkan adalah:
1. menghindari situasi yang membuat masalah itu timbul –> dalam contoh di atas gw sudah menyetel alarm setiap pukul 17.30 sore untuk mengingatkan gw untuk mengingatkan Nadya membereskan tas sekolahnya.
2. mengakui adanya masalah –> oke, kalau suatu hari alarm itu gak nyala sehingga sampai malam baru disadari lupa beresin tas sekolah, gw harus mengakui kalau itu masalah kami bersama. mengapa gw lupa mengingatkannya? Hal ini harusnya bisa membuat marah gw terhadap Nadya mereda. Tau sendiri kan kalau penyebab persoalan itu adalah kita sendiri, biasanya kita gak marah-marah. Ya, gimana dong caranya ngomel ke diri sendiri? Ntar malah dikira udah crazy. Tapi coba kalau yang salah itu orang laen … tuh pasti ngomel-ngomel deh …
3. mengintervensi tubuh kita sewaktu marah dengan cara menahan nafas atau menghitung 1 sampai 10 –> ini nih … harus dilatih …
4. menanamkan ke alam bawah sadar gw bahwa gw adalah orang yang bisa mengendalikan marah –> setiap sebelum tidur, setelah membaca doa yang harus gw baca adalah ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’, ‘gw orang yang bisa mengendalikan marah’… zzzzzzzz …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s