Earth Hour, Medan-Indonesia

voteearth_en

Posting yang mungkin sedikit basi karena Earth Hour kan udah lama, seminggu yang lalu yak, 28 Maret 2009. Kok gw baru posting sekarang? Mengapa oh mengapa? Itu semua karena gw mau ngebahas dampaknya.

Waktu lagi heboh Earth Hour, gw ikut berpartisipasi mematikan lampu selama satu jam, 20.30-21.30 (belakangan karena ketiduran, lampu baru gw hidupkan jam 10, berarti lampu mati satu setengah jam).

Alesannya kalo gak ikut kan berarti mendukung pemanasan global, berarti gak mendukung bumi, berarti gak boleh tinggal di bumi dong. Hlah, terus gw tinggal di mana dong, apa harus ke bulan?

Nggak ding, bukan itu alesannya. Sebenernya gw penasaran besoknya pengen tau berapa MW sih penghematan yang diperoleh karena gerakan Earth Hour? Ternyata kabarnya sampe 180 MW. Nah karena gw ikut, gw kan bisa bilang ke cucu gw … wahai cucunda, omahmu ini ada andilnya dalam penghematan 180 MW itu!

Nggak ding, bukan itu kok alesannya. Lah dari tadi bukan itu terus, jadi yang mana dong yang benar alesannya?

Ok, alesannya adalah gw ingin kembali ke sifat asal gw. Maksudnya? Pada dasarnya gw ini cinta bumi, berpola hidup hemat air, hemat listrik, sumber daya alam digunakan seefisien mungkin (thanks to my mom & grand mom). Belakangan aja setelah married, pola hidup itu agak-agak mulai ditinggalkan. Loh, kok? Iya … karena misua gw, ehm … agak-agak boros (sorry ya hubby). Kadang-kadang lampu lupa matikan, kalo manasin mobil suka lama. Udah sering-sering diingatkan masih gak mempan. Udah bawaan lahir kali yee. Nah kan ada pepatah dalam dunia bisnis ato politik nih, “If you can beat them, then join them!”. Berhubung gw gak bisa ‘mengalahkan’ misua dalam arti mengingatkan misua untuk berhemat, ya udah … gw join misua! Jadi ikut-ikutan boros.

Dengan gerakan Earth Hour ini, gw seolah-olah diingatkan, hey Maya … where have you been?

So, sejak Earth Hour itu gw berhemat-hemat lagi. Waktu Earth Hour, kami menyadari bahwa sebenernya lampu tidur yang remang-remang itu gak perlu-perlu amat dinyalain. Karena biasan lampu indikator AC udah cukup, paling tidak bisa dipake untuk ngelihat yang lagi tidur di sebelah kanan gw ini misua ato Rifky (iya kami tidur sekamar berempat, ranjangnya disambung). Jadi sejak itu lampu tidur gak pernah dinyalain lagi.

Lalu AC, biasanya kan hidup pol sampe pagi. Sebenernya kalo mau ekstrim gak pake AC lagi kayaknya gak bisa berhubung anak-anak udah biasa. Hiks. Jadi kalo mau berpola hidup gak pake AC lagi, pastinya malah anak-anak gak bisa tidur. Tapi paling tidak, gw berusaha mengurangi jamnya. Mulai sekarang, tiap malam gw pasang timer. Jam 4.30 AC-nya mati. Kalo gak ada komplain, akan gw mundurkan terus secara bertahap. Jam 4. Atau jam 3.

Terus listrik notebook gw ini. Kalo gak perlu, kabelnya gak gw colok.

Yah, dimulai dari hal-hal yang kecil, mudah-mudah apa yang gw lakukan berarti untuk bumi tercinta ini.

I love you, earth!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s