Kebakaran Pulo Brayan: Pelajaran yang Bisa Dipetik

Untuk pembaca yang berdomisili di Medan, mungkin sebagian besar sudah mendengar kabar musibah kebakaran yang baru-baru ini melanda sebuah ruko di Pulo Brayan dan menewaskan 7 orang di dalamnya akibat luka bakar yang sangat parah. Musibah ini sangat memprihatinkan, bayangkan … 7 orang anggota keluarga mendadak meninggal terpanggang!

Kejadian lengkapnya bisa dibaca di www[dot]analisadaily[dot]com. Katanya mereka tidak tertolong karena terkurung di dalam ruko tersebut, sementara petugas pemadam kebakaran pun sulit masuk karena terhalang terali. Memang di Medan ini, kalo gw perhatikan sebagian besar orang dari (maaf) etnis Cina suka sekali melindungi rumahnya sedemikian rupa sampai ada istilah ‘kandang harimau’. Soalnya jerjak besi dipasang sekeliling rumah! Maksudnya sih melindungi rumah, tapi ketika terjadi kebakaran malah jadi bumerang karena penghuni rumah sulit keluar untuk menyelamatkan diri.

Kejadian ini mengingatkan gw untuk memeriksa lagi perlengkapan darurat rumah kami yang memang telah disiapkan sedari pertama menempati rumah ini untuk berjaga-jaga, antisipasi kalau suatu saat (mudah-mudahan jangan pernah ya Allah) terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Memang sih yang namanya musibah dan kematian itu, kalo Allah sudah berkehendak kita pasti gak bisa menghindarinya. Tapi kalo kita bisa bersiap diri mengantisipasi, gak ada salahnya kan? Gw ngebayangin kehilangan 1 anggota keluarga aja gak sanggup, apalagi sampe 7. Masya Allah …

Jadi apa saja perlengkapan darurat rumah kami itu?

1. Di lantai 2 ada tali yang sudah disimpul-simpul dan digulung sedemikian supaya tidak kusut sehingga bisa dipakai untuk turun melalui balkon atas tanpa tangan harus terseret dan luka. Ada juga kain gendongan bekas Rifky bayi dulu. Keduanya ditaruh di laci dekat balkon atas, satu-satunya akses untuk keluar dari atas. Tadi gw periksa keduanya masih OK.

2. Di lantai bawah, satu terali jendela depan dan satu di jendela belakang dirancang supaya bisa dibuka. Jadi seperti pintu saja, tapi sebenernya jendela. Untuk menguncinya digunakan gembok. Tadi gw cek, kondisi gembok dan teralinya masih OK.

Terali kanan bisa dibuka, kalo yang kiri terali mati

3. Di ruang belakang juga disiapkan tali, yang gunanya untuk memanjat tembok belakang.

4. Semua dokumen-dokumen dan benda penting serta uang tunai cadangan secukupnya disimpan dalam 1 tas ransel besar dalam lemari tak terkunci supaya bisa langsung diangkat. Ranselnya sendiri digembok sih biar isinya aman.  Kenapa harus ransel, bukan yang lain misalnya koper? Tentu saja karena ransel bisa kita sampirkan di punggung sehingga kedua tangan kita masih bisa bergerak bebas, sementara kalo koper harus ditenteng.

Ransel yang Stand-By

Nah, itulah daftar benda-benda di rumah ini yang gw siapkan tapi gw berharap benda-benda itu tak akan pernah terpakai selamanya.

Bagaimana dengan rumah Anda, sudah ada perlengkapan darurat juga kah?

2 thoughts on “Kebakaran Pulo Brayan: Pelajaran yang Bisa Dipetik

  1. caknyo saia gak siru2 amat sih sis, scaro rumah secolet. balek kanan dapur, hadap kiri kamar, melangkah dikit tempat nonton tipi, mejem be la nyampe di kamar mandi wekekekek…eniwei mokaseh nian oooiii petuahnyo ^_^

    • wakakaka … siru yoh? ay galak ngerendah ye … rendah diri maksudnyo :)
      biarpun secolet teteup dong harus dipikirke kalo terjadi apo-apo di rumah bagian depan, cak mano protap untuk keluar dari rumah. wokeh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s