Benarkah Anak-anak Tidak Boleh di Tengah Shaf Sholat Orang Dewasa?

Alhamdulillah sejak hari pertama puasa Nadya bersemangat sekali sholat tarawih ke masjid. Sayangnya gw gak bisa menemaninya terus berhubung Rifky lelaki kecilku itu belum bisa diajak ke mesjid buat sholat … bisa heboh nanti jemaah dibuatnya. Jadi biasanya Nadya sholat bareng Irma, pengasuh Rifky. Gw sempet nemenin Nad sekali, berhubung Irma sakit perut malam itu. Waktu sebelum sholat, gw sempat mengamati seorang ibu yang ‘sibuk’ mengatur shaf supaya tidak ada anak-anak yang ada di tengah shaf sholat. Anak-anak harus dipinggir! Anak-anak membuat shaf putus! Atau anak-anak harus di shaf khusus yang disediakan yang terletak di antara laki-laki dan wanita. Saat itu si ibu menegur gw juga karena Nadya berada di samping gw, jadi berarti Nad di tengah-tengah tapi terus terang gw cuekin! Seumur-umur gw ke mesjid baru di mesjid inilah shafnya harus diatur begitu. Lagian Nadya sholatnya sudah bagus, gak bikin keributan. Si Ibu marah ngelihat gw cuek berlagak tuli, ‘Huuuuh’ katanya … tapi karena Imam sudah memulai sholat dia gak bisa berbuat apa-apa.

Nah, beberapa hari yang lalu, tiba-tiba Nadya pulang sholat lebih cepat daripada biasanya, sendirian, tanpa Irma pula. Nadya mengeluhkan si ibu-ibu itu … katanya cerewet sekali menyuruh Nadya pindah sana pindah sini. Dan sejak malam itu … Nadya enggan sholat ke mesjid lagi, katanya males jumpa ibu itu.

Hhhh … wahai si ibu … inikah hasil yang kau harapkan dengan kerapian shaf idamanmu? Anakku menjadi malas sholat ke mesjid karenamu!

Berhubung pengetahuan agama gw yang kurang, akhirnya gw surfing sana sini mencari kebenaran, apa memang betul anak-anak tidak boleh berada di tengah shaf? Hasil pencarian gw tidak membenarkan hal itu, di antaranya didapat di Konsultasi Islam sebagai berikut:

Terdapat keterangan hadits yang mengatur posisi anak-anak di belakang saf bapak-bapak (HR: Ahmad dan Abu Dawud). Tetapi hadits tersebut dhoif, shingga tidak bisa dipakai hujjah. Sementara praktik anak-anak dimasa Nabi Muhammad SAW, mereka shalat bersama bapak-bapak dan tidak dianggap memutus saf. Seperti riwayat tentang posisi shaf, Ibnu Abbas yang berada di kanan Nabi SAW, kemudian datang Jabir bin Shakhr yang berdiri di sebelah kiri Nabi SAW, kemudian beliau menempatkan keduanya di belakang beliau (HR: Muslim dan Abu Dawud). Sementara Ibnu Abbas belum baligh, karena Ibnu Abbas ketika Rasulullah SAW wafat masih berumur 11 tahun. Ada juga disebut oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani riwayat shalatnya anak yatim bersama dengan Anas bin Malik (lihat Tamamul Minnah karangan Syaikh Al-Bani hal. 284). Jadi anak tidak memutus shaf berjamaah

Nah, jadi … paham yang gw anut selama ini benar kan … lagian pertanyaannya gini, gimana kalo mesjidnya besuaarr sekali, apa jadinya kalo semua anak2 harus terpisah dengan ibunya, di pinggir semua? Bisa-bisa ajang bersalaman sesudah sholat berubah menjadi ajang mencari anak hilang!

4 thoughts on “Benarkah Anak-anak Tidak Boleh di Tengah Shaf Sholat Orang Dewasa?

  1. Terdapat keterangan hadits yang mengatur posisi anak-anak di belakang saf bapak-bapak (HR: Ahmad dan Abu Dawud). Tetapi hadits tersebut dhoif, shingga tidak bisa dipakai hujjah. Sementara praktik anak-anak dimasa Nabi Muhammad SAW, mereka shalat bersama bapak-bapak dan tidak dianggap memutus saf. Seperti riwayat tentang posisi shaf, Ibnu Abbas yang berada di kanan Nabi SAW, kemudian datang Jabir bin Shakhr yang berdiri di sebelah kiri Nabi SAW, kemudian beliau menempatkan keduanya di belakang beliau (HR: Muslim dan Abu Dawud). Sementara Ibnu Abbas belum baligh, karena Ibnu Abbas ketika Rasulullah SAW wafat masih berumur 11 tahun. Ada juga disebut oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani riwayat shalatnya anak yatim bersama dengan Anas bin Malik (lihat Tamamul Minnah karangan Syaikh Al-Bani hal. 284). Jadi anak tidak memutus shaf berjamaah

  2. Terdapat keterangan hadits yang mengatur posisi anak-anak di belakang saf bapak-bapak (HR: Ahmad dan Abu Dawud). Tetapi hadits tersebut dhoif, shingga tidak bisa dipakai hujjah. Sementara praktik anak-anak dimasa Nabi Muhammad SAW, mereka shalat bersama bapak-bapak dan tidak dianggap memutus saf. Seperti riwayat tentang posisi shaf, Ibnu Abbas yang berada di kanan Nabi SAW, kemudian datang Jabir bin Shakhr yang berdiri di sebelah kiri Nabi SAW, kemudian beliau menempatkan keduanya di belakang beliau (HR: Muslim dan Abu Dawud). Sementara Ibnu Abbas belum baligh, karena Ibnu Abbas ketika Rasulullah SAW wafat masih berumur 11 tahun. Ada juga disebut oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani riwayat shalatnya anak yatim bersama dengan Anas bin Malik (lihat Tamamul Minnah karangan Syaikh Al-Bani hal. 284). Jadi anak tidak memutus shaf berjamaah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s